Jayanti Fun Lab - Monster Peniru Kata
Sunday, January 04, 2026[gambar: Akira dan Kenzo berjalan menuju Jayanti Fun-Lab sambil membawa tas kecil, matahari pagi tersenyum cerah]
[suasana bgm: ceria dan ringan]
Setiap hari Sabtu pagi, Akira dan Kenzo selalu bangun lebih cepat dari hari-hari lainnya. Bukan karena disuruh, tapi karena mereka tidak sabar. Jayanti Fun-Lab sudah menunggu.
Akira, kakak berusia 9 tahun, berjalan sambil membawa tas kecil berisi botol minum dan buku catatan. Ia merasa dirinya sudah cukup besar dan bertanggung jawab.
Kenzo, adiknya yang berusia 6 tahun, melompat-lompat di sampingnya seperti bola karet yang kebanyakan energi.
“Kenzo, jangan lari-lari. Nanti jatuh,” kata Akira dengan nada sok dewasa.
Kenzo berhenti sejenak, lalu meniru suara Akira dengan ekspresi lucu.
“Kenzo, jangan lari-lari. Nanti jatuh~” katanya sambil mengangkat alis.
Akira langsung berhenti berjalan. “Hei! Jangan niru aku!”
Kenzo tertawa. “Aku cuma latihan jadi kakak.”
Akira mendengus, tapi diam-diam ia juga tersenyum.
Sebelum masuk ke Jayanti Fun-Lab, mereka berdua berhenti sejenak. Akira mengingatkan, “Kita niat belajar dan berpetualang ya. Bismillah.”
“Bismillah!” jawab Kenzo semangat, kali ini tanpa meniru.
[gambar: pintu besar Jayanti Fun-Lab terbuka dengan cahaya biru lembut dari dalam]
[suasana bgm: magis dan penuh rasa ingin tahu]
Di dalam Jayanti Fun-Lab, ruangan dunia virtual sudah siap. Lantai berkilau, dinding penuh panel cahaya, dan di tengah ruangan ada kapsul petualangan berbentuk lingkaran.
“Selamat datang, Akira dan Kenzo,” kata suara ramah dari sistem Fun-Lab.
“Hari ini kalian akan memasuki dunia Komunikasi dan Bunyi.”
Kenzo memiringkan kepala. “Komunikasi itu apa? Bisa dimakan?”
Akira tertawa kecil. “Bukan, Kenzo. Itu cara kita bicara dan menyampaikan sesuatu.”
“Oh,” Kenzo mengangguk, lalu berbisik, “tapi aku tetap lapar.”
Akira hampir tertawa keras.
[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di dalam kapsul virtual, cahaya mulai berputar]
[suasana bgm: pelan, menegangkan tapi seru]
Tiba-tiba cahaya berputar semakin cepat. Dalam hitungan detik, mereka sudah berada di dunia baru.
Mereka mendarat di sebuah kota aneh. Bangunannya berwarna-warni, tapi yang paling aneh…
Setiap suara yang mereka keluarkan, terdengar bergema dan meniru.
“Wah, kota apa ini?” tanya Kenzo.
“Wah, kota apa ini?”
Suara itu terulang lagi, sama persis… tapi bukan dari Kenzo.
Akira dan Kenzo saling berpandangan.
“Akira… itu siapa?” bisik Kenzo.
Dari balik gedung besar, terdengar suara yang sama persis dengan suara Kenzo.
“Akira… itu siapa?”
[gambar: bayangan makhluk bulat dengan mulut besar muncul dari balik gedung, seperti sedang menirukan suara]
[suasana bgm: misterius dan sedikit lucu]
Akira menelan ludah.
“Sepertinya… kita tidak sendirian di sini.”
Dan tanpa mereka sadari, seseorang—atau sesuatu—sedang mendengarkan setiap kata yang mereka ucapkan.
[gambar: Akira dan Kenzo berdiri kaku di jalan kota berwarna-warni, bayangan monster terlihat di dinding]
[suasana bgm: misterius bercampur lucu]
Akira segera menarik tangan Kenzo.
“Tenang, jangan panik,” bisiknya.
“Tenang, jangan panik,” suara itu meniru lagi, kali ini terdengar dari atas lampu jalan.
Kenzo refleks menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya membesar.
Akira ikut menutup mulut.
Beberapa detik berlalu.
Sunyi.
Kenzo berbisik sangat pelan, “Kok… suaranya hilang?”
“Kok… suaranya hilang?”
Suara tiruan muncul lagi, meskipun Kenzo hampir tidak bersuara.
Akira menghela napas. “Berarti dia bukan cuma meniru suara keras. Tapi semua kata.”
[gambar: monster bulat berwarna ungu kehijauan dengan mata besar dan mulut elastis muncul penuh]
[suasana bgm: aneh tapi tidak menyeramkan]
Dari balik gedung, muncullah makhluk aneh. Tubuhnya bulat seperti balon, kulitnya berubah-ubah warna, dan mulutnya bisa melebar seperti karet.
“Halo!” kata makhluk itu.
“Halo!”
Ia langsung meniru dirinya sendiri dan tertawa. “Hehehe!”
Kenzo mengerutkan dahi. “Lho… kok dia niru dirinya sendiri?”
Monster itu menatap Kenzo dan menjawab cepat, “Lho… kok dia niru dirinya sendiri?”
Kenzo spontan tertawa. “Hahaha! Lucu!”
“Hahaha! Lucu!”
Monster itu ikut tertawa sambil berguling di jalan.
Akira mulai berpikir. Monster itu memang aneh, tapi tidak terlihat jahat.
“Kamu siapa?” tanya Akira.
“Kamu siapa?”
Monster itu menirukan lagi, lalu berhenti dan berpikir keras.
“Eh… aku lupa. Aku selalu pakai kata orang lain.”
Akira dan Kenzo saling pandang.
“Namanya Monster Peniru Kata,” muncul suara dari sistem Jayanti Fun-Lab.
“Makhluk ini belajar bicara dengan meniru, tapi belum tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.”
Kenzo mengangguk pelan. “Kasihan ya.”
“Kasihan ya,” monster itu meniru, lalu terlihat sedih. Mulutnya turun ke bawah.
[gambar: Kenzo mendekati monster dengan hati-hati]
[suasana bgm: lembut dan hangat]
Kenzo memberanikan diri berkata, “Kalau gitu… kita ajarin pelan-pelan, ya?”
Monster itu membuka mata lebar-lebar.
“…ajarin pelan-pelan, ya?” katanya ragu.
Akira tersenyum. “Tapi ada aturannya. Tidak semua kata boleh ditiru.”
Monster Peniru Kata mengangguk cepat.
“Tidak semua kata boleh ditiru!”
Lalu ia berhenti. “Eh… itu juga ditiru ya?”
Kenzo tertawa sampai memegangi perutnya.
Akira ikut tersenyum, meski tahu petualangan ini baru saja dimulai.
[gambar: Akira, Kenzo, dan Monster Peniru Kata berjalan bersama di kota]
[suasana bgm: ceria tapi penuh rasa ingin tahu]
Namun tanpa mereka sadari, di kota itu ada kata-kata yang bisa membuat masalah besar jika ditiru sembarangan.
Dan sebentar lagi, mereka akan mengalaminya sendiri.
[gambar: kota virtual mulai ramai, layar-layar melayang menampilkan simbol suara dan kata]
[suasana bgm: ceria yang perlahan menjadi tegang]
Akira, Kenzo, dan Monster Peniru Kata berjalan menyusuri kota. Semakin ke tengah kota, suasananya semakin ramai. Banyak makhluk virtual lain yang sedang berbicara, tertawa, dan berdiskusi.
“Ternyata di sini berisik juga ya,” kata Kenzo.
“Ternyata di sini berisik juga ya!”
Monster Peniru Kata langsung menirukan dengan suara lebih keras.
Beberapa makhluk menoleh.
Akira cepat-cepat menepuk bahu monster itu. “Pelan-pelan. Tidak semua harus diulang keras-keras.”
Monster itu mengangguk. “Pelan-pelan…”
Lalu ia berbisik, “Eh, ini benar?”
Kenzo terkikik. “Iya, itu benar.”
[gambar: papan peringatan bertuliskan ‘Zona Kata Sensitif’ dengan ikon mulut]
[suasana bgm: misterius]
Mereka tiba di sebuah lapangan besar. Di sana ada papan besar bertuliskan:
ZONA KATA SENSITIF — GUNAKAN KATA DENGAN BIJAK
Akira membaca keras-keras.
“Wah, sepertinya ini penting.”
Monster Peniru Kata menirukan, “Penting!”
Tiba-tiba tanah sedikit bergetar.
Kenzo terkejut. “Lho, kok goyang?”
“Lho, kok goyang?”
Begitu kata itu ditiru, layar-layar di sekitar mereka mulai berkedip cepat.
Akira langsung sadar. “Kenzo, jangan asal bicara. Di sini, kata-kata punya efek!”
[gambar: bangunan kecil berubah bentuk karena gelombang suara]
[suasana bgm: tegang tapi tetap ramah anak]
Seorang penjaga kota berlari mendekat.
“Tolong hati-hati! Kata yang ditiru berlebihan bisa membuat kota kacau!”
Kenzo menutup mulut lagi.
Monster Peniru Kata terlihat panik. “Kacau… kacau… kacau—”
Bangunan di belakangnya langsung miring sedikit.
“Stop!” seru Akira tegas.
Monster itu langsung diam, matanya berkedip-kedip.
Sunyi.
Kenzo berbisik, “Akira… dia kayak gak bisa berhenti.”
Akira mengangguk. “Makanya kita harus ajarin.”
[gambar: Akira berjongkok sejajar dengan Monster Peniru Kata]
[suasana bgm: lembut dan penuh perhatian]
Akira berkata pelan dan jelas, “Mendengar itu penting. Tapi lebih penting lagi memilih kata yang baik.”
Monster Peniru Kata mencoba menirukan pelan,
“Memilih… kata… yang baik.”
Kali ini, tidak ada getaran.
Tidak ada bangunan miring.
Kenzo tersenyum lebar. “Berhasil!”
“Berhasil!”
Monster itu menirukan dengan hati-hati, lalu menutup mulutnya sendiri dan tertawa kecil.
Akira tersenyum lega. Ia teringat pesan yang sering Ayah dan Ibu sampaikan di rumah:
kata-kata bisa membawa kebaikan, tapi juga bisa menyakiti jika tidak dijaga.
[gambar: kota kembali stabil, cahaya menjadi lembut]
[suasana bgm: tenang dan harapan]
[gambar: lapangan kota virtual menjadi terang, cahaya keemasan turun perlahan]
[suasana bgm: hangat, tenang, penuh harapan]
Kota sudah kembali tenang. Bangunan berdiri tegak, layar-layar berhenti berkedip. Monster Peniru Kata berdiri di tengah lapangan, terlihat gelisah. Mulutnya terbuka sedikit, seolah menahan sesuatu yang ingin keluar.
“Ada apa?” tanya Kenzo pelan.
“Ada apa?”
Monster itu hampir meniru, tapi tiba-tiba ia menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Akira tersenyum kecil. “Wah, kamu sudah mulai bisa menahan diri.”
Monster Peniru Kata mengangguk. “Menahan… diri,” katanya pelan, kali ini tanpa meniru.
[gambar: penjaga kota dan makhluk-makhluk lain berkumpul]
[suasana bgm: lembut dan khidmat]
Penjaga kota maju dan berkata, “Untuk menyelamatkan kota ini sepenuhnya, ada satu ujian terakhir. Monster Peniru Kata harus memilih satu kata yang paling baik untuk ditiru.”
Kenzo mengangkat tangan. “Aku tahu! Kata ‘es krim’!”
Beberapa makhluk tertawa.
Akira terkekeh. “Itu enak, tapi bukan yang paling baik.”
Monster Peniru Kata menoleh ke Akira. “Yang… paling baik?”
Akira berpikir sejenak, lalu berkata dengan suara tenang, “Kata yang paling baik adalah kata yang mengingatkan kita kepada kebaikan dan Tuhan.”
Kenzo mengangguk cepat. “Seperti kata ‘tolong’, ‘maaf’, dan ‘terima kasih’.”
Monster Peniru Kata memejamkan mata, lalu berkata perlahan, dengan suara yang tulus,
“Terima kasih.”
Kali ini, kata itu tidak menimbulkan getaran.
Justru cahaya hangat menyebar ke seluruh kota.
[gambar: kota bersinar lembut, monster berubah warna menjadi lebih cerah]
[suasana bgm: damai dan menenangkan]
Penjaga kota tersenyum. “Kata yang baik membawa ketenangan.”
Akira menambahkan, “Dan kata yang paling indah adalah yang diucapkan dengan niat baik.”
Monster Peniru Kata mengangguk dan berkata lagi, tanpa meniru siapa pun,
“Alhamdulillah.”
Cahaya semakin terang. Kota terasa damai.
[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di samping monster yang kini tampak lebih kecil dan ramah]
[suasana bgm: ceria penutup]
Kenzo tersenyum lebar. “Sekarang kamu gak cuma bisa niru. Kamu bisa milih.”
Monster itu tertawa kecil. “Bisa… memilih.”
Lampu Jayanti Fun-Lab tiba-tiba menyala. Suara sistem terdengar lembut.
“Petualangan selesai. Pelajaran hari ini: kata-kata adalah amanah. Gunakan dengan bijak.”
[gambar: Akira dan Kenzo kembali ke ruang Fun-Lab, saling tersenyum]
[suasana bgm: ceria dan puas]
Akira dan Kenzo saling pandang.
Akira berkata, “Mulai sekarang, kita juga harus jaga kata-kata kita.”
Kenzo mengangguk. “Iya. Tapi… boleh niru suara ayam gak?”
Akira tertawa. “Itu masih boleh.”
Kenzo langsung berkokok, “Kukuruyuuuk!”
Dan Jayanti Fun-Lab dipenuhi tawa.
Tamat.








0 komentar