Jayanti Fun Lab - Hutan Bambu yang Bisa Berjalan
Tuesday, January 06, 2026[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di depan pintu Jayanti Fun-Lab dengan ransel kecil di punggung]
[suasana bgm: ceria dan penuh rasa ingin tahu]
Sabtu pagi selalu jadi hari favorit Akira dan Kenzo. Matahari baru naik, burung-burung masih rajin bernyanyi, dan… cling! pintu Jayanti Fun-Lab terbuka dengan bunyi seperti lonceng es krim.
Akira (9 tahun) melangkah duluan dengan gaya sok pemberani. “Hari ini aku yang pilih dunia virtualnya,” katanya sambil melipat tangan di dada.
Kenzo (6 tahun) langsung menggeleng cepat. “Nggak adil! Minggu lalu juga Kakak!” protesnya sambil nyengir, karena sebenarnya ia sudah menyiapkan jurus pamungkas: wajah imut plus suara memelas.
Akira mendesah. “Ya ampun, itu minggu kemarin-kemarin.”
Mereka hampir berdebat lagi, sampai sebuah layar besar menyala di depan mereka.
[gambar: layar hologram menampilkan hutan bambu hijau yang rimbun]
[suasana bgm: lembut, seperti angin berdesir]
Tulisan besar muncul perlahan:
“SELAMAT DATANG DI: HUTAN BAMBU YANG BISA BERJALAN.”
“Eh?” Kenzo mengucek matanya. “Hutan kok jalan? Pakai sepatu?”
Akira tertawa. “Mana ada hutan pakai sepatu, Zo.”
Tiba-tiba, bambu-bambu di layar itu bergerak pelan, seolah bergeser sendiri. Srek… srek… seperti ada kaki-kaki tak terlihat di bawahnya.
Kenzo menelan ludah. “Kak… bambunya kayak hidup.”
Akira juga mulai merasa merinding, tapi ia cepat ingat sesuatu. “Tenang. Kita kan niat baik, mau belajar. Bismillah aja.”
“Bismillah,” Kenzo menirukan, sambil menggenggam tali ranselnya erat-erat.
[gambar: Akira dan Kenzo masuk ke dalam dunia virtual, cahaya hijau berkilau di sekitar mereka]
[suasana bgm: magis]
Dalam sekejap, mereka sudah berada di tengah hutan bambu sungguhan. Batang-batang bambu tinggi menjulang, daunnya berbisik pelan tertiup angin. Cahaya matahari masuk dari sela-sela daun, membuat garis-garis cahaya yang indah di tanah.
“Waaah… keren,” kata Kenzo takjub. Ia menepuk-nepuk satu batang bambu. “Kak, ini keras beneran.”
Akira mengangguk. “Iya. Kayak bambu di dunia nyata.”
Tiba-tiba…
Glekk!
Tanah di bawah kaki mereka sedikit bergeser.
“Eh! Kak!” Kenzo hampir jatuh dan cepat memeluk kaki Akira.
[gambar: tanah hutan bambu bergeser pelan, daun-daun bergetar]
[suasana bgm: mulai menegangkan tapi masih ringan]
Akira berusaha berdiri seimbang. “Tenang, Zo. Kayaknya… hutannya lagi jalan.”
“HU-TA-NYA?!”
Beberapa bambu di depan mereka berpindah posisi, seperti barisan orang yang sedang pindah tempat. Jalur yang tadi lurus, kini membelok ke kanan.
Kenzo melongo. “Kalau hutannya jalan terus, kita pulangnya gimana?”
Akira menggaruk kepala. “Hehe… itu pertanyaan bagus.”
Tiba-tiba terdengar suara kriiit… kriiit… dari balik bambu.
Kenzo berbisik panik, “Itu suara apa? Jangan-jangan… bambu zombie?”
Akira hampir tertawa tapi langsung menutup mulutnya. “Ssst… jangan ngaco.”
[gambar: bayangan kecil muncul di antara bambu]
[suasana bgm: penasaran]
Dari sela-sela bambu, muncul bayangan kecil yang bergerak cepat. Akira dan Kenzo saling pandang, jantung mereka berdebar.
Siapakah yang bersembunyi di Hutan Bambu yang Bisa Berjalan?
Dan… apakah mereka masih berada di jalur yang benar?
[gambar: Akira dan Kenzo berdiri waspada di antara bambu, bayangan kecil makin jelas]
[suasana bgm: menegangkan tapi penasaran]
Bayangan kecil itu makin mendekat. Srek… srek… suara daun bambu tersibak pelan. Kenzo memejamkan mata dan berbisik cepat, “Kak… kalau itu monster, aku pura-pura pingsan ya.”
Akira menahan tawa. “Jangan! Nanti aku harus gendong kamu.”
“Ya udah, aku pura-pura jadi batu.”
Sebelum Akira sempat menjawab, plop! sesuatu melompat keluar dari balik bambu.
[gambar: seekor hewan kecil mirip tupai dengan topi daun bambu di kepala]
[suasana bgm: berubah ceria dan lucu]
“BERHENTI!” teriak makhluk kecil itu.
Akira dan Kenzo sama-sama terkejut. Tapi… itu bukan monster. Itu seekor tupai kecil, berbulu cokelat, dengan topi dari daun bambu yang kebesaran sampai menutupi satu matanya.
Kenzo membuka mata pelan-pelan. “Eh… kok lucu?”
Tupai itu berkacak pinggang. “Hei! Jangan bilang aku lucu. Aku ini Penjaga Jalur Hutan Bambu!”
Topinya tiba-tiba melorot plek! menutup wajahnya. Tupai itu kelabakan membetulkan topinya.
Akira tak tahan. “Hehehe… maaf.”
Tupai itu mendengus. “Hmph. Kalian manusia, ya? Kalian pasti tersesat.”
Kenzo menunjuk tanah di sekitar mereka. “Soalnya hutannya jalan sendiri…”
“YA JELAS!” kata si tupai. “Kalau hutannya diam terus, nanti bosan.”
Akira dan Kenzo saling pandang. “Masuk akal… tapi juga nggak,” bisik Akira.
[gambar: jalur bambu yang berubah-ubah seperti labirin]
[suasana bgm: petualangan]
Tupai itu memperkenalkan diri, “Namaku Bimo. Tugasku menjaga agar siapa pun yang masuk ke hutan ini tidak sembarangan jalan.”
“Kenapa nggak boleh sembarangan?” tanya Kenzo polos.
Bimo menunjuk bambu-bambu tinggi. “Karena bambu itu makhluk hidup. Kalau dipotong sembarangan, diinjak seenaknya, atau dirusak, mereka bisa marah.”
Seolah mendengar ucapannya, bambu di sebelah kanan bergoyang keras.
“Wiiih!” Kenzo langsung berdiri tegak. “Maaf ya, Bambu. Aku nggak nakal.”
Akira mengangguk serius. “Kami nggak mau merusak. Kami cuma mau belajar dan pulang dengan selamat.”
Bimo tersenyum. “Bagus. Tapi ada satu masalah…”
[gambar: Bimo menunjuk ke arah jalur yang bercabang banyak]
[suasana bgm: sedikit tegang]
“Jalur keluar sedang berpindah-pindah,” kata Bimo. “Dan cuma anak-anak yang bisa bekerja sama yang bisa menemukannya.”
Kenzo spontan berkata, “Aku mau kerja sama, Kak!”
Akira tersenyum kecil. “Iya… asal kamu nggak jalan duluan tanpa bilang.”
Kenzo nyengir. “Deal.”
Tiba-tiba, terdengar suara KRAAAK! dari kejauhan. Tanah kembali bergeser, dan salah satu jalur di depan mereka menutup, digantikan bambu-bambu baru.
Bimo meloncat ke atas batu. “Cepat! Kita harus memilih jalur sebelum hutannya berubah lagi!”
Akira menelan ludah. “Tapi… yang mana?”
Kenzo menatap bambu-bambu yang berbisik tertiup angin. Entah kenapa, ia merasa salah satu jalur terasa lebih “tenang”.
Apakah pilihan Kenzo benar?
Dan apa yang akan terjadi jika mereka salah memilih jalur?
[gambar: Kenzo menunjuk satu jalur bambu yang tampak lebih terang]
[suasana bgm: lembut, penuh harapan]
Kenzo melangkah satu langkah ke depan dan menunjuk sebuah jalur sempit di antara bambu. Jalur itu tidak paling lebar, tidak juga paling lurus. Tapi… daunnya bergerak pelan, seperti sedang mengangguk.
“Yang ini, Kak,” kata Kenzo pelan. “Aku ngerasa… jalurnya baik.”
Akira terdiam. Ia ingin bertanya kenapa, tapi melihat wajah Kenzo yang serius, ia memilih percaya. “Oke. Kita coba.”
Bimo mengangkat alis. “Wah, jarang-jarang anak kecil pakai perasaan, bukan cuma kaki.”
Kenzo tersenyum bangga. “Soalnya kalau marah-marah, biasanya aku malah nyasar.”
Akira terkekeh. “Akhirnya sadar juga.”
[gambar: mereka berjalan di jalur bambu, cahaya matahari mengikuti langkah mereka]
[suasana bgm: petualangan tenang]
Mereka melangkah bersama. Setiap kali Kenzo hampir lari duluan, Akira menepuk bahunya. “Pelan-pelan, bareng.”
Anehnya, bambu-bambu di sekitar mereka ikut menyesuaikan. Batang yang tadinya menghalangi, perlahan bergeser. Dahan yang rendah, terangkat sedikit agar tidak mengenai kepala Kenzo.
“Eh, Kak,” bisik Kenzo, “bambunya baik ya.”
“Karena kita juga baik,” jawab Akira.
Tiba-tiba terdengar suara krek… krek… dari belakang.
[gambar: bambu di belakang mereka saling menutup, jalur menghilang]
[suasana bgm: menegangkan]
Kenzo refleks memeluk lengan Akira. “Kak… jalannya hilang!”
Bimo cepat berkata, “Jangan panik! Kalau panik, hutannya makin lari.”
Akira menarik napas dalam-dalam. “Tenang, Zo. Ingat. Bismillah.”
“Bismillah,” Kenzo mengangguk.
Mereka berhenti. Tidak berteriak. Tidak lari. Hanya berdiri tenang.
Perlahan… sruuuk… bambu di depan mereka membuka jalan baru.
[gambar: sebuah lapangan kecil dengan bambu melingkar seperti gerbang]
[suasana bgm: magis dan hangat]
Di tengah lapangan itu berdiri Gerbang Bambu, melingkar indah dengan ukiran daun dan akar.
Bimo tersenyum lebar. “Selamat. Kalian lulus ujian hutan.”
“Ujian?” Kenzo melotot. “Kirain jalan-jalan.”
“Justru itu ujiannya,” kata Bimo. “Hutan ini mengajarkan sabar, percaya, dan kerja sama.”
Akira mengangguk pelan. Ia teringat bagaimana biasanya ia mudah kesal pada Kenzo. “Ternyata… kalau nggak egois, jalannya jadi lebih gampang.”
Kenzo tersenyum lebar. “Iya. Kalau aku dengerin Kakak, aku nggak takut.”
Gerbang bambu mulai bercahaya.
[gambar: cahaya hijau lembut menyelimuti Akira dan Kenzo]
[suasana bgm: menuju akhir yang damai]
“Lewat sini kalian bisa pulang,” kata Bimo. “Ingat ya, bambu di dunia nyata juga perlu dijaga.”
Akira dan Kenzo mengangguk bersamaan. “Iya!”
Saat mereka melangkah ke dalam cahaya, Kenzo menoleh. “Bimo!”
“Iya?”
“Topinya… miring lagi.”
Topi daun bambu Bimo jatuh plek! menutup wajahnya.
“HEY!” teriak Bimo.
Akira dan Kenzo tertawa keras.
Cahaya makin terang…
dan dunia hutan perlahan menghilang.
[gambar: Akira dan Kenzo keluar dari ruang dunia virtual Jayanti Fun-Lab]
[suasana bgm: ceria dan hangat]
Ciiit… pintu dunia virtual menutup perlahan. Akira dan Kenzo kembali berdiri di ruang Jayanti Fun-Lab. Lantai terasa padat, tidak bergerak sama sekali.
Kenzo menghentakkan kaki. “Alhamdulillah… lantainya nggak jalan.”
Akira tertawa. “Iya, kalau lantai rumah jalan, Ibu bisa pusing.”
Mereka duduk sebentar di bangku kecil. Napas Kenzo masih agak cepat, tapi matanya berbinar.
[gambar: Akira duduk sambil mengelus kepala Kenzo]
[suasana bgm: lembut]
“Kak,” kata Kenzo pelan, “kalau aku tadi nggak nurut, kita bisa nyasar ya?”
Akira mengangguk. “Iya. Dan kalau Kakak nggak mau dengerin kamu, mungkin kita juga salah jalan.”
Kenzo tersenyum kecil. “Berarti… kita sama-sama harus belajar.”
Akira tersenyum balik. “Deal.”
Tiba-tiba, layar besar di depan mereka menyala lagi.
[gambar: layar menampilkan bambu hijau dengan tulisan pesan]
[suasana bgm: edukatif dan hangat]
Tulisan muncul satu per satu:
“Bambu tumbuh kuat karena akarnya saling terhubung.”
“Manusia juga kuat kalau saling membantu.”
Kenzo membaca keras-keras. “Kak, kayak kita ya.”
“Iya,” jawab Akira. “Kalau cuma sendiri, gampang roboh.”
Kenzo mengangguk serius… lalu tiba-tiba terkikik. “Tapi aku tetap nggak mau pakai topi daun kayak Bimo.”
Akira tertawa. “Iya, nanti disangka tupai.”
[gambar: Akira dan Kenzo berjalan keluar Jayanti Fun-Lab bergandengan]
[suasana bgm: ceria penutup]
Saat mereka melangkah keluar, angin pagi menyapa. Di luar, ada rumpun bambu kecil di dekat pagar.
Kenzo berhenti dan menatapnya. Ia mengangkat tangan, tidak jadi menyentuh.
“Kenapa?” tanya Akira.
“Bambunya lagi istirahat,” jawab Kenzo polos.
Akira tersenyum bangga. “Kamu ingat pelajarannya.”
Mereka pun pulang dengan langkah ringan—
bukan cuma karena petualangan yang seru,
tapi karena hati mereka terasa lebih rapi.
TAMAT 🌿✨








0 komentar