Jayanti Fun Lab - Kontes Merawat Monster
Tuesday, January 13, 2026[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di depan gedung warna-warni bertuliskan “Jayanti Fun-Lab”]
[suasana bgm: ceria dan penuh rasa penasaran]
Setiap hari Sabtu pagi, Akira dan Kenzo selalu datang ke tempat favorit mereka: Jayanti Fun-Lab.
Akira yang berusia 9 tahun berjalan dengan langkah percaya diri, sementara Kenzo yang berusia 6 tahun meloncat-loncat kecil sambil memegang ransel dinosaurus kesayangannya.
“Aku yang pilih judul petualangan hari ini!” kata Kenzo cepat-cepat.
“Giliran aku dong. Minggu lalu kamu pilih dunia permen, ingat?” jawab Akira sambil melipat tangan.
Kenzo mengerutkan hidung. “Tapi dunia permen itu aku yang hampir dimakan marshmallow raksasa!”
Akira menahan tawa. “Justru itu lucu.”
Mereka hampir saja berdebat lebih panjang kalau tidak terdengar suara ramah.
“Assalamu’alaikum, petualang cilik!”
Itu suara Kak Anti, petugas Jayanti Fun-Lab yang selalu tersenyum.
“Wa’alaikumussalam!” jawab Akira dan Kenzo kompak.
Kak Anti menunjuk ke arah pintu besar berbentuk lingkaran dengan lampu warna-warni.
“Hari ini mau pilih judul sendiri atau… acak?”
Kenzo dan Akira saling pandang.
“Acak aja,” kata Akira.
“Iya, biar kaget!” sambung Kenzo.
Kak Anti menekan sebuah tombol besar.
BEEP!
[gambar: layar hologram berputar menampilkan tulisan besar dan berkedip]
“KONTES MERAWAT MONSTER”
Kenzo melotot. “MONSTER?! Yang giginya segede pisang goreng?!”
Akira tertawa. “Tenang, Ken. Monster kan belum tentu jahat.”
Kak Anti tersenyum misterius.
“Ingat, di dunia virtual ini, yang dinilai bukan keberanian saja, tapi juga kesabaran, kerja sama, dan tanggung jawab.”
Kenzo menelan ludah. “Kalau monsternya tantrum gimana?”
“Ya… dihadapi,” jawab Akira sambil menepuk pundak adiknya, sok dewasa.
Lampu-lampu mulai meredup.
[suasana bgm: lembut lalu berubah sedikit magis]
Pintu dunia virtual terbuka perlahan, seperti pusaran cahaya.
Akira dan Kenzo mengenakan helm virtual dan saling menggenggam tangan.
“Aku takut tapi penasaran,” bisik Kenzo.
“Aku juga. Tapi kita bareng,” jawab Akira.
WHOOSH!
[gambar: Akira dan Kenzo mendarat di sebuah lapangan luas dengan kandang-kandang warna-warni dan papan bertuliskan “Selamat Datang Peserta Kontes!”]
[suasana bgm: ceria bercampur sedikit tegang]
Mereka mendarat dengan posisi yang… kurang rapi.
Kenzo terduduk di tanah. “Eh? Kok aku nyium bau rumput ya?”
Akira berdiri sambil menahan tawa. “Itu karena kamu jatuh telentang.”
Tiba-tiba terdengar suara aneh dari salah satu kandang.
GROOOOK… PLEK!
Kenzo bersembunyi di belakang Akira.
“Itu suara monster atau suara perut lapar?”
Belum sempat Akira menjawab, sebuah papan kayu di depan mereka menyala.
“TUGAS PERTAMA: SETIAP PESERTA AKAN MENDAPATKAN SATU MONSTER UNTUK DIRAWAT.”
Akira menarik napas dalam-dalam.
“Kayaknya ini bukan kontes biasa.”
Kenzo mengangguk pelan.
“Iya… dan aku harap monsternya nggak suka makan manusia.”
Dari dalam kandang, terdengar suara kecil lagi.
“Miiip… miiip…”
Akira dan Kenzo saling pandang, jantung mereka berdebar.
Perlahan, pintu kandang mulai terbuka…
[gambar: pintu kandang terbuka perlahan, cahaya lembut keluar dari dalam]
[suasana bgm: menegangkan pelan lalu berubah lucu]
Pintu kandang terbuka…
Akira dan Kenzo menahan napas.
CREK…
Dari dalam kandang, bukan monster besar bertaring tajam yang muncul, tapi…
[gambar: monster kecil berbulu bulat, warna hijau pastel, bermata besar, telinga panjang, dan memakai celemek kecil]
“…….”
Kenzo berkedip. “Loh.”
Monster itu menguap lebar, lalu…
BRUP!
Ia bersin dan tiba-tiba gelembung sabun keluar dari hidungnya.
“HAHA!” Kenzo tertawa sampai hampir jatuh.
“Monster kok kayak mainan mandi!”
Akira tersenyum lega. “Kayaknya aman.”
Monster kecil itu menatap mereka, lalu berkata dengan suara cempreng,
“Namaku… Mogumoo.”
Begitu selesai bicara, Mogumoo tiba-tiba menangis keras.
“WAAAHHH!”
Kenzo panik. “EH?! Kenapa dia?! Aku nggak apa-apain!”
[gambar: Mogumoo menangis sambil berguling-guling, gelembung sabun beterbangan]
[suasana bgm: lucu tapi sedikit kacau]
Sebuah papan petunjuk muncul di udara:
“PERHATIAN: MOGUMOO AKAN MENANGIS JIKA LAPAR, BOSAN, ATAU MERASA DIABAIKAN.”
Akira membaca keras-keras. “Lapar, bosan, atau diabaikan…”
Kenzo menggaruk kepala. “Lah, itu kan kayak… anak kecil?”
Mogumoo makin kencang menangis.
WAAAHHH! MIIIP!
Tanah di sekitar mereka mulai licin karena air mata Mogumoo berubah jadi jeli.
“Kenzo, ambil makanan di kotak itu!” seru Akira.
Kenzo berlari… lalu PLUK!
Ia terpeleset dan duduk tepat di atas jeli.
“AKIRAAA! AKU KELESET!”
Akira menahan tawa sambil membantu adiknya berdiri.
“Fokus, fokus!”
Kenzo akhirnya mengambil sepotong makanan berbentuk bintang dan memberikannya ke Mogumoo.
[gambar: Mogumoo makan sambil tersenyum, jeli berhenti mengalir]
[suasana bgm: ceria]
Begitu makanan masuk ke mulutnya, Mogumoo langsung berhenti menangis.
“Enak… makasih…” katanya polos.
Kenzo menghela napas lega. “Alhamdulillah…”
Belum sampai sepuluh detik…
“MIIP… MIIP…”
Mogumoo menarik ujung baju Akira.
“Ada apa lagi?” tanya Akira lembut.
Sebuah papan baru muncul:
“MOGUMOO BUTUH DIAJAK BERMAIN AGAR TIDAK BOSAN.”
Kenzo langsung berseru, “AKU JAGO MAIN KEJAR-KEJARAN!”
Akira mengangkat alis. “Tapi kita harus gantian, Ken.”
Mereka mulai bermain bersama Mogumoo:
– kejar-kejaran,
– menyusun balok warna,
– dan bernyanyi lagu anak-anak.
[gambar: Akira, Kenzo, dan Mogumoo bermain bersama di lapangan warna-warni]
Mogumoo tertawa riang. “Hihihi!”
Namun saat Kenzo terlalu asyik sendiri dan menjauh…
“MIIP…”
Mata Mogumoo mulai berkaca-kaca lagi.
Akira segera berkata, “Kenzo, kita kan tim.”
Kenzo terdiam, lalu mengangguk.
“Iya… maaf.”
Ia kembali menggandeng Mogumoo.
[suasana bgm: hangat dan lembut]
Papan nilai muncul:
“PENILAIAN SEMENTARA:
✔ Kerja Sama
✔ Kepedulian
✖ Kesabaran (masih perlu dilatih)”
Kenzo membaca pelan. “Kok kesabaranku silang?”
Akira tersenyum bijak. “Namanya juga belajar.”
Tiba-tiba, bel besar berbunyi.
DONG! DONG!
[gambar: gerbang besar terbuka di ujung lapangan]
“TAHAP BERIKUTNYA AKAN SEGERA DIMULAI.”
Mogumoo memeluk kaki mereka.
“Aku ikut, kan?”
Kenzo tersenyum. “Iya dong.”
Akira mengangguk mantap.
“Sekarang dia tanggung jawab kita.”
[gambar: Akira, Kenzo, dan Mogumoo berjalan memasuki lorong panjang bercahaya biru]
[suasana bgm: pelan, penuh rasa waspada]
Bel besar tadi membawa mereka ke sebuah lorong panjang. Di dindingnya, muncul jam-jam pasir yang terus berdetak.
Kenzo menelan ludah. “Kok rasanya kayak mau ulangan, ya…”
Akira membaca papan yang menyala di depan mereka.
“TAHAP KEDUA: UJIAN KESABARAN.”
Belum sempat mereka bertanya apa maksudnya, Mogumoo tiba-tiba berhenti berjalan.
“MIIP.”
“Kenapa?” tanya Akira.
Mogumoo duduk dan…
melipat tangan, lalu memalingkan wajah.
Kenzo melongo. “Loh, dia ngambek?!”
[gambar: Mogumoo duduk membelakangi Akira dan Kenzo, pipi mengembung]
[suasana bgm: lucu tapi tegang]
Papan petunjuk muncul lagi:
“MOGUMOO SEDANG NGAMBEEK.
DILARANG MEMAKSA.
DILARANG MARAH.”
Kenzo spontan berkata, “Ayo dong jalan! Kita kan mau menang!”
Begitu suara Kenzo agak meninggi—
PLING!
Satu jam pasir di dinding retak.
Akira cepat-cepat menahan adiknya.
“Kenzo, pelan. Kita nggak boleh marah.”
Kenzo cemberut. “Tapi dia bikin lama…”
Akira menarik napas, mengingatkan diri.
Ia berjongkok di depan Mogumoo.
“Kamu kenapa, Moo?” tanyanya lembut.
Mogumoo bergumam, “Tadi… Kenzo ninggalin aku lagi.”
Kenzo terdiam.
Ia menunduk.
[gambar: Kenzo menggaruk kepala, wajah menyesal]
“Aku nggak sengaja,” kata Kenzo pelan.
“Maafin aku ya.”
Mogumoo melirik sedikit… lalu masih diam.
Kenzo berpikir keras, lalu berkata,
“Aku janji, aku bakal nunggu kamu. Kita bareng.”
Ia mengulurkan tangan kecilnya.
Beberapa detik terasa lama…
Lalu—
“MIIIP…”
Mogumoo berdiri dan memegang tangan Kenzo.
CRING!
Jam pasir yang retak kembali utuh.
[suasana bgm: hangat dan menenangkan]
Akira tersenyum.
“Alhamdulillah.”
Mereka melanjutkan perjalanan, tapi tantangan belum selesai.
Tiba-tiba, peserta lain muncul dari lorong samping.
[gambar: dua anak dengan monster besar bermata satu, tampak sombong]
“Heh, kalian lama banget,” ejek salah satu anak.
Monsternya mendengus keras, membuat Mogumoo bersembunyi.
Kenzo mengepalkan tangan. “Akira, mereka nyebelin!”
Akira menahan emosi.
“Ingat, jangan balas dengan marah.”
Papan baru muncul:
“PESERTA YANG MENJAGA AKHLAK AKAN MENDAPAT NILAI TAMBAHAN.”
Kenzo menarik napas.
“Bismillah…”
Ia memilih diam dan menggenggam Mogumoo lebih erat.
Anak lain itu pergi sambil tertawa, tapi papan nilai Akira dan Kenzo bersinar.
✔ Kesabaran meningkat
✔ Akhlak terjaga
[suasana bgm: lembut dan penuh harapan]
Mogumoo tersenyum lebar.
“Kalian baik…”
Bel besar berbunyi lagi.
DONG!
[gambar: pintu besar berbentuk hati dan bulan sabit terbuka]
“TAHAP AKHIR AKAN SEGERA DIMULAI.”
Kenzo berbisik, “Aku capek… tapi seneng.”
Akira mengangguk.
“Karena kita belajar bareng.”
Mogumoo memeluk mereka berdua.
[gambar: Akira, Kenzo, dan Mogumoo berdiri di arena luas bercahaya emas]
[suasana bgm: megah tapi lembut]
Pintu besar berbentuk hati dan bulan sabit menutup perlahan di belakang mereka.
Di hadapan Akira dan Kenzo, terbentang arena terakhir Kontes Merawat Monster.
Di tengah arena berdiri sebuah timbangan raksasa.
Satu sisi bertuliskan “KEMENANGAN”, sisi lain bertuliskan “KEBAIKAN”.
Kenzo membaca keras-keras. “Hah? Kok disuruh milih?”
Papan petunjuk terakhir muncul:
“TAHAP AKHIR:
PESERTA BOLEH MEMILIH JALAN TERCEPAT UNTUK MENANG,
ATAU JALAN TERBAIK UNTUK MONSTER.”
Akira menelan ludah.
“Kayaknya… ini serius.”
Tiba-tiba, Mogumoo tampak lemas.
“Miip…”
Tubuhnya berubah sedikit pucat.
[gambar: Mogumoo duduk lemah, telinga terkulai]
[suasana bgm: tegang dan sedih]
Sebuah kotak muncul di dekat timbangan.
OPS I:
TINGGALKAN MOGUMOO DI ARENA PERAWATAN
→ NILAI MAKSIMAL
→ PELUANG JUARA BESAR
OPS II:
TEMANI MOGUMOO SAMPAI PULIH
→ NILAI BERKURANG
→ RISIKO TIDAK MENANG
Kenzo langsung memeluk Mogumoo.
“Dia kenapa sih?!”
Mogumoo berbisik, “Aku… capek. Tapi kalau aku istirahat, kalian nggak menang…”
Kenzo menatap Akira dengan mata berkaca-kaca.
“Kak… kita mau menang kan?”
Akira diam sejenak.
Ia teringat pesan Kak Anti sebelum masuk:
Yang dinilai bukan keberanian saja…
Akira mengelus kepala Mogumoo.
“Kita ikut kontes bukan cuma buat menang.”
Kenzo menggigit bibir.
“Berarti… kita pilih yang kedua?”
Akira mengangguk.
“Iya. Bismillah.”
[gambar: Akira dan Kenzo duduk menemani Mogumoo, memberi air dan selimut kecil]
[suasana bgm: hangat, penuh kasih]
Waktu terus berjalan.
Peserta lain satu per satu menyelesaikan kontes.
Kenzo sempat berbisik, “Aku takut kalah…”
Akira tersenyum kecil.
“Yang penting Allah tahu niat kita.”
Mogumoo perlahan membuka mata.
“Kalian… nggak ninggalin aku.”
“Enggak,” jawab Kenzo mantap.
“Kita keluarga sekarang.”
Tiba-tiba, arena bersinar terang.
DING!
Timbangan raksasa bergerak sendiri…
dan berhenti tepat di tengah.
[gambar: cahaya turun dari atas arena]
Sebuah suara bergema:
“KEBAIKAN ADALAH KEMENANGAN SEBENARNYA.”
Kenzo terperangah.
“Eh… itu artinya apa?”
Akira tersenyum lega.
Bel besar berbunyi sekali lagi.
DONG!
[suasana bgm: haru dan penuh kemenangan]
“MENUJU PENGUMUMAN AKHIR.”
Mogumoo berdiri dengan semangat baru.
“Aku kuat karena kalian.”
Kenzo tertawa kecil.
“Berarti kita nggak sia-sia ya, Kak.”
Akira mengangguk.
“InsyaAllah.”
[gambar: panggung besar penuh cahaya, semua peserta dan monster berkumpul]
[suasana bgm: hangat, haru, dan bahagia]
Arena berubah menjadi sebuah panggung megah. Lampu-lampu berkilauan seperti bintang di langit malam. Semua peserta berdiri rapi bersama monster mereka masing-masing.
Akira menggenggam tangan Kenzo.
Kenzo berbisik, “Deg-degan…”
Mogumoo berdiri di antara mereka, terlihat lebih segar dan tersenyum lebar.
Sebuah layar besar menyala di atas panggung.
“PENGUMUMAN HASIL KONTES MERAWAT MONSTER.”
Satu per satu nama dipanggil.
Ada yang menang karena cepat, ada yang karena monster paling kuat.
Kenzo mulai menunduk.
“Kak… kayaknya kita nggak kepanggil.”
Akira mengusap punggung adiknya.
“Kalau pun nggak, kita udah berusaha yang terbaik.”
Tiba-tiba layar berkedip.
[gambar: nama Akira & Kenzo muncul bersinar]
“PENGHARGAAN KHUSUS:
PESERTA DENGAN HATI PALING PEDULI.”
Kenzo melongo. “HAH? ITU KITA?!”
Akira tersenyum lebar.
“Alhamdulillah…”
Sorak sorai terdengar. Mogumoo meloncat kegirangan.
“MIIP! MIIP!”
Ia memeluk Akira dan Kenzo erat-erat.
[gambar: Mogumoo memeluk Akira dan Kenzo di atas panggung]
Sebuah piala unik muncul—bentuknya hati dengan bintang di tengah.
Suara bergema kembali:
“MERAWAT BUKAN SOAL MENANG CEPAT,
TAPI SOAL SETIA, SABAR, DAN IKHLAS.”
Kenzo mengangguk serius.
“Kayak di rumah ya, Kak. Kalau aku rewel, Kakak nggak ninggalin aku.”
Akira tertawa kecil.
“Iya, dan kamu juga harus sabar sama aku.”
Mogumoo menatap mereka dengan mata berbinar.
“Aku belajar… kalau disayang, aku jadi kuat.”
Cahaya mulai berputar di sekitar mereka.
[suasana bgm: magis dan lembut]
Sebuah pesan terakhir muncul:
“WAKTUNYA KEMBALI.”
Kenzo memeluk Mogumoo lagi.
“Kita bakal ketemu lagi?”
Mogumoo tersenyum.
“Setiap kali kalian memilih kebaikan.”
WHOOSH!
---
[gambar: Akira dan Kenzo melepas helm virtual di Jayanti Fun-Lab]
[suasana bgm: ceria ringan]
Mereka kembali ke dunia nyata.
Kak Anti berdiri di depan mereka sambil tersenyum.
“Gimana petualangannya?”
Kenzo menjawab cepat, “Monsternya ribet, tapi baik!”
Akira menambahkan, “Dan kami belajar sabar.”
Kak Anti mengangguk bangga.
“Itu pelajaran yang paling mahal.”
Akira dan Kenzo berjalan pulang sambil tertawa kecil.
Kenzo berkata, “Kak… besok kalau aku ngambek, Kakak sabar ya.”
Akira tersenyum hangat.
“Kita saling sabar.”
[gambar: Akira dan Kenzo berjalan berdampingan, matahari sore di belakang mereka]
[suasana bgm: penutup hangat dan menenangkan]
---
Pesan Moral untuk Anak-anak:
💚 Menyayangi dan merawat membutuhkan kesabaran
🤝 Kerja sama membuat masalah jadi lebih ringan
🌙 Kebaikan dan niat yang ikhlas adalah kemenangan sejati
TAMAT ✨







0 komentar