Jayanti Fun Lab - Misteri Negeri Gawai

Monday, January 12, 2026



[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di depan gedung Jayanti Fun-Lab yang penuh warna]

[suasana bgm: ceria dan penuh rasa ingin tahu]


Setiap hari Sabtu pagi, Akira dan Kenzo selalu bangun lebih cepat dari hari biasanya. Bahkan sebelum alarm berbunyi, Kenzo sudah meloncat dari tempat tidur.


“Ka Akiraaa! Bangun! Hari ini rilis judul baru!” teriak Kenzo sambil menarik selimut kakaknya.


Akira mengerang pelan. “Kenzo… ini masih pagi. Kakak belum mimpi jadi pahlawan dunia virtual.”


“Tapi nanti keburu habis antreannya!” Kenzo cemberut, lalu… prut!

Ia tak sengaja kentut kecil karena terlalu semangat.


Akira langsung tertawa terbahak-bahak. “Pahlawan bau kentut!”


Kenzo merah padam. “Itu angin pagi!”


Mereka pun bersiap dan berangkat bersama ke Jayanti Fun-Lab, tempat favorit mereka. Gedung itu selalu ramai dengan anak-anak, lampu warna-warni, dan layar besar yang menampilkan judul dunia virtual terbaru.


[gambar: ruang utama Jayanti Fun-Lab dengan layar raksasa]


Di depan pintu ruang dunia virtual, berdirilah Kak Anti, petugas yang selalu ramah.


“Assalamu’alaikum, Akira, Kenzo,” sapa Kak Anti sambil tersenyum.

“Wa’alaikumussalam!” jawab mereka kompak… meski satu detik kemudian Kenzo mendahului bicara.


“Kak Anti! Judul barunya apa?”


Kak Anti menunjuk layar. Tulisan besar menyala terang:


✨ MISTERI NEGERI GAWAI ✨


Akira membaca pelan. “Negeri Gawai? Itu maksudnya gadget?”


Kak Anti mengangguk. “Iya. Dunia ini penuh teknologi canggih. Tapi… ada misteri besar di dalamnya.”


Kenzo langsung berpose seperti detektif. “Aku siap memecahkan misteri!”


Akira melirik adiknya. “Asal jangan memencet tombol sembarangan.”


Kenzo menoleh cepat. “Aku kan cuma pencet dikit.”


[suasana bgm: pelan, futuristik]


“Bismillah,” ucap Akira.

“Bismillah!” Kenzo menirukan, sambil memejamkan mata erat-erat.


Cahaya terang menyelimuti mereka.



---


[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di kota futuristik dengan gedung-gedung berbentuk ponsel raksasa]


Saat cahaya menghilang, mereka sudah berada di sebuah kota aneh. Gedung-gedungnya berbentuk ponsel raksasa, jam dindingnya seperti tablet, dan papan petunjuk jalannya berupa layar sentuh.


Kenzo melongo. “Waaah… Kak! Gedungnya bisa digeser!”


Benar saja. Saat Kenzo menyentuh dinding gedung, gedung itu geser ke samping sambil berbunyi, “Swipe accepted!”


Akira panik. “Kenzo! Jangan asal sentuh!”


Tiba-tiba, jalan di bawah kaki mereka berubah jadi papan ketik besar.


Klik! Klik! Klik!


Kenzo terpeleset. “Aaaa!”

Ia jatuh terduduk tepat di tombol besar bertuliskan ENTER.


DING!


[gambar: portal digital terbuka di depan mereka]

[suasana bgm: menegangkan ringan]


Portal bercahaya terbuka. Dari dalamnya terdengar suara robot:


“⚠️ Peringatan! Negeri Gawai kehilangan keseimbangan!”


Akira menelan ludah. “Sepertinya… kita baru saja memulai masalah.”


Kenzo nyengir kecil. “Hehehe… tapi seru, kan?”


Akira menghela napas, lalu tersenyum. “Ya… tapi kita harus bertanggung jawab.”


Mereka saling pandang, lalu melangkah maju menuju portal misterius itu—tanpa tahu petualangan besar apa yang menanti mereka di Negeri Gawai.


[gambar: Akira dan Kenzo berjalan menuju portal cahaya bersama-sama]

[suasana bgm: petualangan dimulai]


[gambar: Akira dan Kenzo keluar dari portal cahaya ke lorong digital]

[suasana bgm: petualangan, sedikit misterius]


Akira dan Kenzo melangkah keluar dari portal dan tiba di sebuah lorong panjang. Dindingnya seperti layar kaca besar. Di beberapa bagian, layar itu retak-retak, berkilau seperti kaca pecah.


Kenzo menunjuk satu retakan. “Kak… itu kayak HP Abah waktu jatuh dari motor.”


Akira mengangguk. “Iya. Tapi kalau di sini, kayaknya bukan cuma layarnya yang rusak.”


Tiba-tiba, retakan itu bergerak. Dari celahnya muncul makhluk kecil berbentuk ikon baterai, tapi wajahnya lemas.


[gambar: makhluk kecil berbentuk baterai dengan ekspresi sedih]


“Halo…” suara makhluk itu lirih. “Aku B-Batri.”


Kenzo spontan mendekat. “Kok kamu kayak mau habis?”


Batri menghela napas panjang. “Semua di Negeri Gawai kelelahan. Layar retak karena dipakai terus tanpa henti.”


Akira teringat sesuatu. “Dipakai terus? Maksudnya tanpa istirahat?”


Batri mengangguk. “Benar. Tidak ada waktu jeda. Tidak ada keseimbangan.”


Kenzo menggaruk kepala. “Aku sih biasanya main, terus… main lagi.”


Akira melirik tajam. “Kenzo.”


Kenzo langsung nyengir. “Hehe… kadang lupa waktu.”


[suasana bgm: lembut, reflektif]


Mereka berjalan lebih dalam. Di kanan kiri, Akira melihat ikon jam pasir terbalik, notifikasi menumpuk, dan tombol pause yang berdebu—seolah tak pernah dipakai.


Tiba-tiba terdengar suara “TING! TING! TING!” bertubi-tubi.


[gambar: hujan notifikasi jatuh dari atas]


“Hujan notifikasi!” teriak Kenzo.


Notifikasi-notifikasi itu jatuh seperti kertas. Kenzo mencoba menangkis dengan tangan, tapi malah menempel di wajahnya.


“Ka Akira! Ini lengket!”

Di pipinya tertempel tulisan: “Main lagi yuk!”


Akira menahan tawa. “Itu godaan, Kenzo. Jangan dituruti.”


Kenzo berusaha melepaskan notifikasi itu. “Pergi! Aku mau… eh… shalat dulu!”

Plop! Notifikasi itu langsung jatuh dan menghilang.


Batri terkejut. “Wah! Kata-kata baik bisa melemahkan notifikasi!”


Akira tersenyum. “Karena itu pengingat yang benar.”


[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di depan layar raksasa yang retak]

[suasana bgm: menegangkan]


Di ujung lorong, mereka menemukan layar raksasa yang sangat retak. Dari dalamnya terdengar suara berat dan dingin.


“AKU PENJAGA LAYAR.”


Sosok besar muncul—seperti bayangan hitam berisi cahaya pecah-pecah.


“Keseimbangan hilang,” kata Penjaga Layar. “Siapa yang berani memperbaiki Negeri Gawai?”


Kenzo mundur setengah langkah, lalu maju lagi. “Kami!”


Akira menepuk bahu adiknya. “Kami akan mencoba… bersama.”


Penjaga Layar membuka satu mata bercahaya.

“Kalau begitu, buktikan. Temukan Tombol Jeda yang hilang.”


Lantai bergetar. Sebuah jalan bercabang muncul: satu jalur penuh cahaya warna-warni yang berkilau cepat, satu lagi jalan sederhana dengan tanda jam kecil.


[gambar: dua jalan bercabang di depan Akira dan Kenzo]


Kenzo menatap jalan warna-warni. “Yang itu kelihatan seru…”


Akira menatap jalan dengan jam kecil. “Tapi yang ini kelihatan penting.”


Mereka saling pandang. Keputusan apa yang akan mereka ambil?


[suasana bgm: menggantung, penuh tanda tanya]


[gambar: dua jalan bercabang—satu penuh cahaya warna-warni, satu sederhana dengan simbol jam]

[suasana bgm: lembut tapi menegangkan]


Akira dan Kenzo berdiri di depan dua jalan itu. Jalan kiri berkilau, penuh warna, dengan suara ting-ting menyenangkan. Jalan kanan tampak tenang, berwarna lembut, dengan tanda jam berdetak pelan.


Kenzo maju setengah langkah ke jalan berkilau. “Kak… yang ini kelihatan seru banget.”


Akira ragu. “Iya, tapi kadang yang terlalu seru bikin kita lupa waktu.”


Kenzo mengerucutkan bibir. “Tapi… aku kan cuma sebentar.”


Tiba-tiba, dari jalan berkilau muncul makhluk lucu berbentuk tombol Play dengan senyum lebar.


[gambar: makhluk tombol Play melompat-lompat]


“Ayo main! Ayo lanjut! Sedikit lagi!” katanya cepat-cepat.


Kenzo tertawa. “Dia lucu!”


Akira merasakan sesuatu yang aneh. Setiap kali tombol Play itu bicara, suara jam di kejauhan makin pelan… tik… tik…


[suasana bgm: halus tapi ada rasa bahaya]


Di sisi lain, dari jalan bergambar jam muncul sosok kecil bercahaya lembut, berbentuk tombol Pause. Wajahnya tenang.


[gambar: makhluk tombol Pause bercahaya lembut]


“Aku tidak melarang bermain,” katanya pelan. “Aku hanya mengingatkan kapan harus berhenti.”


Kenzo menggaruk kepala. “Berhenti itu… susah.”


Tombol Pause tersenyum. “Tapi setelah berhenti, kamu bisa bermain lagi dengan lebih senang.”


Akira menatap Kenzo. “Ingat waktu kita main sampai lupa makan?”


Kenzo tertawa kecil. “Terus perutku bunyi gruuuk kayak monster.”


Mereka berdua tertawa. Bahkan tombol Play terdiam sebentar.


Akhirnya, Kenzo mengangguk. “Kita coba jalan jam itu ya, Kak.”


Akira tersenyum lega. “Keputusan yang berani.”


[gambar: Akira dan Kenzo melangkah ke jalan bergambar jam]

[suasana bgm: menenangkan]


Saat mereka melangkah, jalan berkilau perlahan memudar. Jam-jam kecil muncul di udara, berdetak rapi. Mereka tiba di sebuah taman digital yang tenang. Ada bangku, pohon cahaya, dan… alarm kecil.


Kenzo menekan alarm itu tanpa berpikir.


PRIIIIT!


Kenzo kaget dan meloncat. “Kak! Itu teriak!”


Akira tertawa. “Itu pengingat.”


Dari tengah taman muncul sebuah peti transparan. Di dalamnya terlihat sebagian Tombol Jeda, tapi masih terbelah.


“Kenapa cuma setengah?” tanya Kenzo.


Suara lembut terdengar dari udara.

“Karena jeda tidak bisa sendirian.”


[gambar: bayangan jam dan hati muncul di udara]


“Mereka yang mencari Tombol Jeda harus membaginya dengan hal lain: waktu bersama.”


Kenzo menatap Akira. “Kayak… main sama Kakak? Tanpa gawai?”


Akira mengangguk. “Atau main bola. Baca buku. Ngobrol.”


Peti itu berkilau lebih terang, tapi belum terbuka sepenuhnya.


Tiba-tiba, taman bergetar. Dari kejauhan terdengar suara notifikasi lagi—lebih banyak, lebih cepat.


[gambar: gelombang notifikasi mendekat dari kejauhan]

[suasana bgm: menegangkan]


Kenzo menelan ludah. “Kayaknya kita belum selesai…”


Akira mengepalkan tangan. “Kita harus menyempurnakan Tombol Jeda.”


Mereka berdiri berdampingan, siap menghadapi tantangan berikutnya—demi menyelamatkan Negeri Gawai.


[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di taman digital, gelombang notifikasi datang seperti ombak]

[suasana bgm: menegangkan dan cepat]


“TING! TING! TING!”


Suara notifikasi datang bertubi-tubi. Kali ini bukan hanya jatuh dari atas, tapi mengalir seperti ombak besar menuju taman digital.


Kenzo panik. “Kak! Notifikasinya marah!”


Akira menarik tangan adiknya. “Jangan berdiri diam!”


Mereka berlari, tapi notifikasi itu semakin banyak. Ada yang berbunyi, “Main lagi!”, “Level baru!”, “Cuma sebentar!”


Salah satu notifikasi melompat dan menempel di kepala Kenzo seperti topi.


[gambar: Kenzo dengan notifikasi menempel di kepala]


“Ka Akira… aku jadi kepikiran mau main,” kata Kenzo pelan, matanya mulai melamun.


Akira kaget. “Kenzo! Fokus!”


Akira teringat pesan Batri dan Tombol Pause. Ia menutup mata sebentar lalu berkata tegas,

“Ayo Kenzo, ingat! Waktu shalat, waktu belajar, waktu main!”


Kenzo berkedip. “Oh iya!”


Notifikasi di kepalanya langsung POOF! menghilang seperti balon meletus.


[suasana bgm: semangat]


Dari langit taman, setengah Tombol Jeda yang ada di peti mulai bersinar. Namun, gelombang notifikasi belum berhenti.


Tiba-tiba, muncul sosok besar berbentuk lonceng berkilau—Raja Notifikasi.


[gambar: Raja Notifikasi besar dengan cahaya berkedip-kedip]


“Aku hidup dari perhatian!” suaranya menggema. “Semakin kalian menatap, semakin kuat aku!”


Kenzo menutup mata. “Kak, aku pengin lihat… tapi aku juga takut.”


Akira menggenggam tangan Kenzo. “Kalau begitu, kita hadapi bareng-bareng.”


Mereka berdiri berdampingan. Akira mengangkat tangan.

“Kami tidak menolak teknologi,” katanya lantang. “Tapi kami memilih keseimbangan!”


Kenzo menambahkan, “Main boleh… tapi berhenti juga harus!”


[suasana bgm: heroik]


Cahaya hangat muncul dari dada mereka berdua. Cahaya itu membentuk jam kecil dan hati yang menyatu.


DING… DING…


Cahaya itu menyempurnakan setengah Tombol Jeda yang hilang. Kini Tombol Jeda utuh, melayang di udara.


[gambar: Tombol Jeda utuh bersinar lembut]


Raja Notifikasi menjerit. “TIDAAAK—”

Cahayanya meredup, lalu ia mengecil menjadi lonceng kecil yang tenang.


Taman digital kembali sunyi. Jam-jam berdetak normal. Udara terasa ringan.


Kenzo tersenyum lebar. “Kak… rasanya enak ya, habis berhenti.”


Akira mengangguk. “Karena kita jadi lebih sadar.”


Tombol Jeda melayang ke arah mereka.

“Kalian telah mengembalikan keseimbangan,” katanya. “Tapi satu hal lagi harus dilakukan.”


Tanah di depan mereka terbuka, memperlihatkan jalan menuju pusat Negeri Gawai.


[gambar: jalan cahaya menuju pusat Negeri Gawai]

[suasana bgm: tenang tapi penuh harapan]


Akira dan Kenzo saling pandang, lalu melangkah maju bersama.


[gambar: Akira dan Kenzo berjalan di jalan cahaya menuju pusat Negeri Gawai]

[suasana bgm: hangat, penuh harapan]


Jalan cahaya membawa Akira dan Kenzo ke sebuah alun-alun besar. Di tengahnya berdiri Menara Waktu, tinggi menjulang, dengan jarum jam yang berhenti di angka yang berbeda-beda.


Akira mengernyit. “Jamnya bingung.”


Kenzo mengangguk serius. “Kayak aku kalau disuruh berhenti main.”


Mereka terkikik kecil.


Di kaki menara, makhluk-makhluk Negeri Gawai berkumpul: Batri si Baterai, Tombol Pause, ikon Jam Pasir, bahkan lonceng kecil bekas Raja Notifikasi.


[gambar: makhluk-makhluk Negeri Gawai berkumpul]


Tombol Pause melayang ke depan.

“Menara ini hanya bisa berjalan normal jika Tombol Jeda ditempatkan oleh mereka yang paham artinya.”


Akira dan Kenzo saling pandang. Akira memegang Tombol Jeda, lalu berkata pelan,

“Kenzo, kita lakukan bersama ya.”


Kenzo mengangguk. “Bareng.”


[suasana bgm: khidmat dan lembut]


Mereka menempelkan Tombol Jeda ke pusat Menara Waktu.


KLIK.


Jarum jam berputar perlahan… lalu berdetak teratur. Cahaya menyebar ke seluruh Negeri Gawai. Layar-layar retak memperbaiki diri. Notifikasi yang tersisa berubah menjadi pengingat baik.


[gambar: Negeri Gawai kembali cerah dan seimbang]


Batri tersenyum cerah. “Sekarang kami bisa beristirahat dan bekerja dengan adil.”


Menara Waktu berbunyi lembut, lalu sebuah portal terbuka.


[gambar: portal kembali ke Jayanti Fun-Lab]


Suara Kak Anti terdengar dari dalam portal.

“Petualangan selesai. Saatnya kembali.”


Kenzo melambaikan tangan. “Dadah Negeri Gawai!”


Akira tersenyum. “Ingat pesan kami ya.”


Mereka melangkah masuk ke portal.



---


[gambar: Akira dan Kenzo kembali di ruang Jayanti Fun-Lab]

[suasana bgm: ceria]


Kak Anti berdiri di depan mereka.


“Bagaimana petualangannya?” tanya Kak Anti.


Kenzo langsung menjawab, “Seru! Aku belajar kalau berhenti itu bukan berarti selesai.”


Akira menambahkan, “Tapi supaya bisa mulai lagi dengan lebih baik.”


Kak Anti mengangguk bangga.


Saat pulang, Kenzo berjalan sambil bersenandung. Tiba-tiba ia berkata,

“Kak, habis ini kita main bola yuk. HP-nya nanti aja.”


Akira terkejut lalu tersenyum lebar. “Siap.”


Mereka pulang sambil tertawa, membawa satu pelajaran penting:


🌟 Teknologi itu berguna, tapi waktu dan kebersamaan jauh lebih berharga. 🌟


[gambar: Akira dan Kenzo berjalan pulang sambil tertawa]

[suasana bgm: hangat dan bahagia]


TAMAT

You Might Also Like

0 komentar