Jayanti Fun Lab - Gunung Tujuh Warna

Friday, January 02, 2026

 


[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di depan gedung futuristik bertuliskan “Jayanti Fun-Lab”, pagi hari cerah]

[suasana bgm: ceria dan penuh semangat]

Setiap hari Sabtu pagi, Akira dan Kenzo selalu punya agenda wajib: pergi ke Jayanti Fun-Lab.

Akira, kakak berusia 9 tahun, terkenal pintar dan sok serius. Sementara Kenzo, adiknya yang berusia 6 tahun, selalu penuh ide aneh dan suara tawa.

“Kenzo, jangan lari-lari. Kita belum masuk,” kata Akira sambil merapikan tas kecilnya.

“Aku bukan lari… aku pemanasan petualangan!” jawab Kenzo sambil berlari zig-zag seperti robot rusak.

Akira menghela napas. “Astaghfirullah… Kenzo itu memang bikin sabar.”

Kenzo berhenti mendadak. “Sabar itu kan ibadah, Kak.”

Akira terdiam. “Eh… iya juga.”

[gambar: pintu ruang dunia virtual terbuka, cahaya warna-warni keluar]

Di dalam Jayanti Fun-Lab, pintu dunia virtual perlahan terbuka. Cahaya merah, kuning, hijau, biru, ungu, jingga, dan putih berputar seperti pelangi yang menari.

Sebuah suara lembut terdengar,

“Selamat datang di dunia petualangan hari ini…”

Kenzo menelan ludah. “Kak… kenapa aku tiba-tiba merasa keren?”

Akira tersenyum kecil. “Karena sebentar lagi kita akan belajar sesuatu yang penting.”

[gambar: Akira dan Kenzo memakai gelang virtual bercahaya]

Begitu gelang virtual mereka aktif, lantai menghilang!

“WAAAH!” teriak Kenzo sambil refleks memegang tangan Akira.

Mereka mendarat dengan lembut di tanah hangat berkilau.

[gambar: gunung besar dengan tujuh warna berbeda, asap tipis berwarna-warni]

Di depan mereka berdiri Gunung Berapi 7 Warna.

Gunung itu luar biasa besar. Setiap sisinya memiliki warna berbeda: merah menyala, biru sejuk, hijau tenang, kuning cerah, ungu misterius, jingga hangat, dan putih bersinar.

“Gunung berapi kok cantik ya…” gumam Akira kagum.

Kenzo menunjuk asap warna-warni yang keluar pelan-pelan.

“Kak… itu gunungnya batuk pelangi?”

Akira tertawa. “Bisa jadi.”

[suasana bgm: misterius tapi lembut]

Tiba-tiba tanah bergetar pelan.

Bukan menakutkan, tapi seperti ada sesuatu yang ingin berbicara.

Sebuah tulisan cahaya muncul di udara:

“Gunung ini menyimpan ilmu, tapi hanya bisa dibuka oleh hati yang sabar dan kerja sama.”

Kenzo menatap Akira. “Kak… berarti kita nggak boleh berantem ya?”

Akira mengangguk. “Iya. Kita harus saling bantu. Bismillah.”

Mereka pun melangkah maju bersama, belum tahu bahwa setiap warna gunung menyimpan ujian yang berbeda.

[gambar: Akira dan Kenzo berjalan mendekati Gunung Berapi 7 Warna, bayangan mereka kecil di hadapan gunung besar]

[suasana bgm: penuh rasa ingin tahu]

Petualangan mereka baru saja dimulai…

[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di lereng gunung berwarna merah menyala, batu-batu hangat berkilau]

[suasana bgm: agak menegangkan tapi masih ringan]

Begitu Akira dan Kenzo melangkah lebih dekat, mereka tiba-tiba berada di lereng berwarna merah menyala. Tanahnya hangat seperti baru dijemur matahari seharian.

“Kenzo… kok sepatuku anget?” tanya Akira.

Kenzo mengangkat satu kaki. “Punyaku juga! Ini sepatu atau roti bakar, Kak?”

Akira hampir tertawa, tapi tiba-tiba…

DUUUM!

Sebuah batu merah besar jatuh tepat di depan mereka.

[gambar: batu merah besar dengan wajah lucu tapi cemberut]

Batu itu punya wajah! Alisnya tebal, matanya melotot, dan mulutnya manyun.

“Aku adalah Penjaga Warna Merah!” bentaknya.

“Di sini tinggal api amarah!”

Kenzo bersembunyi di belakang Akira. “Kak… batunya galak.”

Akira menelan ludah. “Iya… tapi mukanya kayak cabe kepedesan.”

Batu itu mendengus. PSHHHT! Asap merah keluar dari hidungnya.

[suasana bgm: menegangkan]

“Untuk melewati wilayah ini,” kata si Batu Penjaga,

“kalian harus menjawab ujian kesabaran!”

Tiba-tiba, jalan di depan mereka terbelah menjadi dua jalur sempit. Di tengahnya, api kecil menyala-nyala.

“Kenzo harus lewat dulu!” kata Akira.

“Enggak! Kakak dulu!” balas Kenzo sambil menyilangkan tangan.

“Kenzo kan lebih kecil—”

“Justru karena kecil aku takut!”

Suasana mulai panas. Api kecil di tanah ikut membesar.

[gambar: api makin besar seiring Akira dan Kenzo saling berdebat]

Batu Penjaga tertawa keras.

“HAHA! Semakin kalian marah, apiku semakin besar!”

Akira berhenti bicara. Ia menarik napas dalam-dalam.

“Ingat, Kenzo… kita nggak boleh berantem.”

Kenzo menggaruk kepala. “Iya ya… Mama juga bilang, marah itu bikin masalah makin besar.”

Akira tersenyum dan berkata pelan,

“Bismillah… kita lewat bareng.”

[gambar: Akira menggenggam tangan Kenzo]

Mereka saling menggenggam tangan dan melangkah perlahan bersama.

Ajaib! Api di tanah mengecil… lalu padam.

[suasana bgm: tenang dan hangat]

Batu Penjaga terdiam, lalu tersenyum.

“Amarah kalah oleh kesabaran.”

Batu itu berubah menjadi cahaya merah lembut yang masuk ke gelang mereka.

Kenzo meloncat kecil. “Kak! Aku nggak kebakar!”

Akira tertawa. “Alhamdulillah.”

[gambar: jalan terbuka menuju wilayah gunung berwarna biru]

Di depan mereka, tampak jalur baru menuju wilayah biru yang sejuk. Angin dingin berembus pelan.

Namun, sebuah suara lembut berbisik,

“Ujian berikutnya menunggu…”

[suasana bgm: misterius dan menenangkan]

Apa tantangan warna biru?

Akira dan Kenzo melangkah maju, siap menghadapi petualangan berikutnya.


[gambar: Akira dan Kenzo memasuki wilayah gunung berwarna biru, udara sejuk, bebatuan berkilau seperti es]

[suasana bgm: tenang, sejuk, dan sedikit misterius]

Begitu melangkah ke wilayah warna biru, hawa panas langsung menghilang. Udara terasa dingin dan segar, seperti pagi hari setelah hujan.

“Waaah… enak banget,” kata Kenzo sambil merentangkan tangan.

“Aku serasa jadi es krim rasa vanila.”

Akira tertawa. “Kalau kamu es krim, pasti jatuh duluan.”

Kenzo mendengus. “Es krim juga punya harga diri, Kak.”

[gambar: danau biru jernih memantulkan wajah Akira dan Kenzo]

Tak jauh dari sana, terbentang danau biru bening. Airnya begitu jernih sampai bayangan mereka terlihat jelas.

Tiba-tiba air danau bergelombang, lalu muncul sosok seperti cermin hidup.

[gambar: makhluk air biru bercahaya, wajahnya tenang]

“Aku adalah Penjaga Warna Biru,” ucapnya lembut.

“Wilayah ini adalah tempat kejujuran.”

Kenzo berbisik, “Kak… dia kelihatan baik, tapi aku tetap takut.”

Penjaga Biru tersenyum. “Tidak perlu takut, selama berkata jujur.”

[suasana bgm: sedikit menegangkan tapi lembut]

Air danau berubah menjadi layar bercahaya.

Muncul bayangan kejadian kemarin sore.

Akira dan Kenzo saling berpandangan.

Dalam bayangan itu, terlihat Kenzo menjatuhkan gelas, lalu Akira menyembunyikannya dan berkata,

“Bukan aku, Ma.”

Kenzo menunduk. Akira menggigit bibirnya.

Penjaga Biru bertanya,

“Siapa yang berkata tidak jujur?”

Sunyi.

Kenzo hampir bicara, tapi Akira mengangkat tangan.

“Aku,” katanya pelan.

“Aku takut dimarahi, jadi aku bohong.”

[gambar: Akira menunduk, Kenzo memegang tangan kakaknya]

Penjaga Biru mengangguk.

“Kejujuran memang berat, tapi Allah menyukai hamba yang jujur.”

Kenzo menatap Akira. “Aku juga salah, Kak. Aku diam saja.”

Danau bergemerlap. Airnya berubah lebih terang.

[suasana bgm: hangat dan menenangkan]

“Kalian telah memilih jujur,” kata Penjaga Biru.

“Itulah kunci wilayah ini.”

Cahaya biru masuk ke gelang mereka. Danau pun terbelah, membuka jalan.

Kenzo tersenyum lebar. “Kak… jujur itu bikin lega ya.”

Akira mengangguk. “Iya. Rasanya kayak habis bilang yang benar.”

[gambar: jalan menanjak menuju wilayah hijau penuh pepohonan]

Di depan mereka terbentang wilayah hijau yang rimbun. Terdengar suara burung dan dedaunan bergoyang.

Namun, dari kejauhan terdengar suara aneh:

“Tolong… tolong…”

[suasana bgm: penuh rasa penasaran]

Akira dan Kenzo saling menatap.

Mereka pun berlari kecil menuju suara itu.


[gambar: hutan hijau rimbun di lereng gunung, cahaya matahari menembus daun-daun]

[suasana bgm: alami, lembut, suara burung dan angin]

Akira dan Kenzo memasuki wilayah hijau. Pepohonan tinggi berdiri rapat, daunnya berkilau seperti baru disiram embun. Udara terasa segar dan menenangkan.

“Enak ya, Kak,” kata Kenzo sambil menghirup udara dalam-dalam.

“Rasanya paru-paruku ikut senyum.”

Akira terkekeh. “Paru-paru memang nggak punya mulut, Zo.”

“Ya… senyum di dalam,” jawab Kenzo santai.

[gambar: anak burung kecil terjatuh di tanah]

Tiba-tiba, mereka melihat seekor anak burung kecil di tanah. Sayapnya tampak lemas, dan ia mencicit pelan.

“Ciiit… ciiit…”

Kenzo langsung jongkok. “Kak! Burungnya kenapa?”

Akira memperhatikan sekitar. “Sepertinya jatuh dari sarang.”

[suasana bgm: lembut dan menyentuh]

Kenzo ingin langsung mengangkat burung itu.

“Tunggu,” kata Akira lembut.

“Kita harus hati-hati. Kasihan kalau salah.”

Mereka melihat ke atas. Di dahan tinggi, tampak sarang kecil yang hampir roboh.

Kenzo menelan ludah. “Tapi… aku nggak bisa manjat tinggi.”

Akira berpikir sejenak. “Kita kerja sama.”

[gambar: Akira menggendong Kenzo agar lebih tinggi]

Akira menekuk lutut dan menggendong Kenzo.

“Pegang yang kuat.”

Kenzo meraih sarang itu pelan-pelan dan mengembalikan anak burung ke tempatnya.

“Ciiit!”

Anak burung itu berkicau lebih nyaring.

[suasana bgm: hangat dan bahagia]

Daun-daun bergoyang, dan cahaya hijau lembut turun dari langit. Muncul sosok Penjaga Warna Hijau, berbentuk seperti angin berdaun.

“Kalian telah menunjukkan kepedulian,” ucapnya.

“Menolong makhluk Allah adalah perbuatan mulia.”

Kenzo tersenyum bangga. “Kak, aku merasa jadi pahlawan kecil.”

Akira mengusap kepala Kenzo. “Karena kita peduli.”

Cahaya hijau masuk ke gelang mereka. Hutan pun membuka jalan.

[gambar: jalan keluar hutan menuju puncak gunung dengan warna campuran]

Namun, di kejauhan tampak puncak Gunung Berapi 7 Warna. Warnanya bercampur dan berputar-putar, jauh lebih besar dari sebelumnya.

[suasana bgm: tegang dan megah]

Tanah bergetar pelan.

Sebuah suara bergema:

“Ujian terakhir menanti…”

Kenzo memegang tangan Akira erat-erat.

“Kak… aku agak deg-degan.”

Akira tersenyum tenang.

“Kita sudah sejauh ini. InsyaAllah, kita bisa.”

Mereka pun melangkah menuju puncak.


[gambar: puncak Gunung Berapi 7 Warna, langit cerah, tujuh warna berputar lembut seperti pelangi]

[suasana bgm: megah, hangat, dan penuh harapan]

Akira dan Kenzo akhirnya tiba di puncak Gunung Berapi 7 Warna.

Anehnya, tidak ada api panas atau ledakan. Yang ada justru cahaya lembut dari tujuh warna yang berputar seperti pelangi raksasa.

Kenzo mengucek matanya. “Kak… ini gunung berapi atau kue ulang tahun raksasa?”

Akira tertawa. “Kalau kue, aku pesan rasa cokelat.”

[gambar: tujuh cahaya warna membentuk lingkaran di udara]

Satu per satu, cahaya itu berbicara dengan suara yang berbeda namun lembut.

🔴 Merah: “Kesabaran memadamkan amarah.”

🔵 Biru: “Kejujuran membuat hati tenang.”

🟢 Hijau: “Kepedulian menumbuhkan kebaikan.”

🟡 Kuning: “Syukur membuat hidup bercahaya.”

🟣 Ungu: “Berani berbuat benar itu mulia.”

🟠 Jingga: “Kerja sama membuat yang berat jadi ringan.”

⚪ Putih: “Semua nilai ini akan kuat jika diniatkan karena Allah.”

[suasana bgm: lembut dan menyentuh]

Akira menggenggam tangan Kenzo.

“Kita sering berantem, tapi ternyata kita selalu belajar bersama.”

Kenzo mengangguk. “Iya… aku mau coba lebih sabar. Tapi kalau lupa, Kakak ingetin ya.”

“InsyaAllah,” jawab Akira tersenyum.

[gambar: gelang virtual mereka bersinar terang]

Tujuh cahaya itu menyatu dan masuk ke gelang mereka.

Puncak gunung pun berubah menjadi cahaya putih yang hangat.

Sebuah suara berkata,

“Ilmu bukan hanya untuk diketahui, tapi untuk diamalkan.”

[gambar: Akira dan Kenzo kembali ke ruang Jayanti Fun-Lab]

Cahaya memudar.

Akira dan Kenzo kembali berdiri di dalam Jayanti Fun-Lab. Jam dinding menunjukkan waktu yang sama seperti saat mereka masuk.

Kenzo menepuk perutnya. “Kak… aku capek, tapi kok bahagia ya?”

Akira tersenyum. “Karena kita belajar dengan cara yang seru.”

[suasana bgm: ceria dan penutup hangat]

Mereka melangkah keluar, siap menjalani hari dengan hati yang lebih sabar, jujur, dan peduli.

Dan tentu saja…

siap bertualang lagi Sabtu depan.

🌟 TAMAT 🌟

You Might Also Like

0 komentar