Jayanti Fun Lab - Aku Jadi Kapten Angkasa
Thursday, January 08, 2026
[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di depan pintu dunia virtual bertema luar angkasa]
[suasana bgm: ceria dan penuh rasa ingin tahu]
Setiap Sabtu pagi, Akira dan Kenzo selalu bersemangat datang ke Jayanti Fun-Lab. Hari itu, layar besar di depan mereka menampilkan tulisan berkilau:
“MISI ANGKASA: JADI KAPTEN PESAWAT BINTANG!”
“Mantap! Aku mau jadi kaptennya!” seru Akira sambil mengangkat tangan duluan.
“Lho, aku juga mau!” protes Kenzo sambil manyun, tangannya melipat di dada.
Seperti biasa, mereka sempat saling pandang dengan wajah “aku duluan!” dan “nggak, aku!”. Tapi sebelum pertengkaran itu jadi panjang, lantai berkilau dan… wuuusss!
Mereka tersedot masuk ke dunia virtual!
[gambar: Akira dan Kenzo muncul di dalam pesawat luar angkasa yang besar dan mengkilap]
[suasana bgm: ceria futuristik]
Kini mereka berada di dalam pesawat angkasa yang sangat besar. Jendelanya bundar, tombolnya warna-warni, dan di tengah ruangan ada dua helm astronot.
Akira langsung mengambil satu helm dan memakainya.
“Siap terbang!” katanya bangga.
Tapi… pluk!
Helmnya turun menutup seluruh wajah.
“Eh? Kok gelap?”
Akira berjalan pelan-pelan sambil meraba udara. Bruk! Ia menabrak kursi.
Kenzo tertawa sampai memegangi perut.
“Hahaha! Kakak jalannya kayak robot kehabisan baterai!”
Akira akhirnya membuka helm itu.
“Helmnya kebesaran…”
Kenzo mencoba helm satunya. Kali ini helmnya malah miring ke samping.
“Lho, aku jadi kelihatan kayak jamur miring!”
Mereka berdua tertawa bersama.
[gambar: panel kontrol pesawat dengan banyak tombol dan layar]
[suasana bgm: ceria sedikit tegang]
Di depan mereka, layar menyala dan terdengar suara lembut:
“Selamat datang, Kapten dan Kopilot. Silakan pilih pemimpin misi.”
Akira dan Kenzo saling pandang lagi.
“Aku kapten,” kata Akira cepat.
Kenzo berpikir sebentar, lalu berkata,
“Ya sudah… tapi aku yang tekan tombol-tombolnya.”
Akira mengangguk. “Deal.”
Kenzo langsung menekan satu tombol besar berwarna hijau.
Piiing!
Tiba-tiba kursi mereka berputar pelan.
“Waaah!” seru Kenzo senang.
“Eh, kok muter?” Akira ikut teriak.
Pesawat berhenti berputar, lalu layar menampilkan peta bintang.
[gambar: layar menampilkan planet-planet berwarna cerah]
[suasana bgm: mulai menegangkan tapi tetap ringan]
“Perhatian,” kata suara itu lagi.
“Misi pertama: antar paket energi ke Planet Cahaya. Tapi hati-hati… ada hujan meteor kecil.”
Kenzo menelan ludah.
“Kecil itu… kecil banget kan?”
Akira menarik napas, lalu tersenyum.
“Tenang. Aku kaptennya.”
Di luar jendela, bintang-bintang mulai bergerak cepat. Pesawat bersiap melaju ke angkasa luas.
Petualangan mereka baru saja dimulai…
dan Akira belum tahu, menjadi kapten itu bukan cuma soal duduk paling depan.
[gambar: pesawat angkasa melaju di antara bintang-bintang]
[suasana bgm: menegangkan tapi tetap ringan]
Pesawat angkasa melaju semakin cepat. Di luar jendela, bintang-bintang terlihat seperti garis-garis cahaya.
“Wow… kayak naik wahana paling cepat!” kata Kenzo sambil menempelkan wajah ke kaca.
Akira duduk tegak di kursi kapten. Ia mencoba terlihat tenang, walau jantungnya deg-degan.
“Kapten harus berani,” gumamnya pelan.
Tiba-tiba layar berkedip.
“Peringatan! Hujan meteor kecil di depan,” kata suara mesin.
Belum sempat Akira menjawab, tik! tik! tok!
Batu-batu kecil bercahaya mulai menyentuh pelindung pesawat.
Kenzo langsung memeluk sandaran kursi.
“Kak… itu bukan kecil. Itu banyak!”
Akira menelan ludah. “Iya… kecil tapi rame.”
[gambar: panel kontrol menyala dengan tombol warna merah, kuning, hijau]
[suasana bgm: menegangkan]
Pesawat sedikit bergoyang.
“Kapten, silakan kendalikan pesawat,” kata suara mesin lagi.
Akira melihat panel penuh tombol.
“Yang mana ya?”
Kenzo menunjuk satu tombol biru.
“Yang ini kelihatan ramah.”
Akira menekan tombol biru.
Woooosh!
Pesawat malah miring ke kanan.
“WAA!” teriak mereka berdua.
Kenzo buru-buru menutup mata.
“Aku nggak mau jadi astronot gepeng!”
Akira cepat-cepat menekan tombol kuning.
Klik!
Pesawat kembali lurus.
“Hah… aman,” kata Akira lega.
[gambar: meteor kecil lewat pelan di samping pesawat]
[suasana bgm: mulai lebih tenang]
Di luar, meteor-meteor itu ternyata tidak menabrak keras. Ada yang berkilau, ada yang melayang seperti kunang-kunang.
“Eh… cantik ya,” kata Kenzo membuka mata sedikit.
Akira ikut melihat.
“Iya. Ternyata nggak serem-serem amat.”
Pesawat melaju perlahan melewati hujan meteor sampai akhirnya langit kembali gelap dan tenang.
“Rintangan pertama berhasil dilewati,” kata suara mesin.
Kenzo tersenyum lebar.
“Kakak hebat juga jadi kapten.”
Akira tersenyum malu-malu.
“Karena ada kopilot yang bantu.”
[gambar: planet bercahaya muncul dari kejauhan]
[suasana bgm: kagum dan ceria]
Di kejauhan, terlihat sebuah planet bercahaya kuning keemasan.
“Planet Cahaya!” seru Kenzo.
Akira menggenggam kemudi dengan lebih percaya diri.
“Ternyata kerja sama itu penting.”
Namun, mereka belum tahu…
di planet itu, ada tantangan lain yang menunggu.
[gambar: pesawat angkasa mendarat di planet bercahaya keemasan]
[suasana bgm: kagum dan lembut]
Pesawat angkasa mendarat perlahan di Planet Cahaya. Tanahnya berkilau seperti lampu-lampu kecil, dan udara terasa hangat.
“Waaah… lantainya kayak penuh kunang-kunang!” kata Kenzo sambil melompat kecil.
Akira melangkah lebih hati-hati.
“Jangan lari-lari. Kita kan kapten dan kopilot.”
Baru saja mereka turun, muncul sebuah menara cahaya dengan pintu transparan.
[gambar: menara cahaya dengan pintu dan satu panel tombol]
[suasana bgm: misterius tapi ramah]
Di depan pintu ada panel dengan dua tombol besar:
satu berwarna emas, satu berwarna abu-abu.
Layar menyala dan muncul tulisan:
“Untuk mengantar paket energi, tekan tombol sesuai kejujuranmu.”
Kenzo menggaruk kepala.
“Maksudnya gimana?”
Akira membaca pelan-pelan.
“Kapten harus jujur pada dirinya sendiri.”
Kenzo menoleh.
“Kakak yakin tadi nggak takut pas meteor?”
Akira terdiam. Ia ingat jantungnya berdebar dan tangannya sempat gemetar.
“…Takut dikit,” jawab Akira jujur.
Begitu Akira berkata begitu, tombol emas menyala lembut.
[gambar: tombol emas bersinar terang]
[suasana bgm: hangat dan menenangkan]
Kenzo tersenyum.
“Berarti jujur itu nggak bikin dimarahi ya?”
Akira mengangguk.
“Iya. Malah bikin pintunya kebuka.”
Akira menekan tombol emas.
Ding!
Pintu menara terbuka perlahan.
Di dalam, ada tempat khusus untuk paket energi. Akira dan Kenzo meletakkannya bersama-sama.
[gambar: cahaya menyebar dari menara ke seluruh planet]
[suasana bgm: ceria dan penuh harapan]
Cahaya menyebar ke seluruh Planet Cahaya. Lampu-lampu kecil di tanah bersinar lebih terang.
“Berhasil!” seru Kenzo.
Tiba-tiba layar kecil muncul.
“Misi hampir selesai. Kembali ke pesawat untuk pulang.”
Kenzo meloncat senang.
“Aku mau cerita ke Bunda!”
Akira tertawa kecil.
“Asal ceritanya jujur.”
Mereka berdua berlari kembali ke pesawat, merasa bangga.
Namun…
sebelum benar-benar pulang, masih ada satu hal terakhir yang harus mereka hadapi sebagai tim.
[gambar: Akira dan Kenzo kembali duduk di dalam pesawat angkasa]
[suasana bgm: tenang dan hangat]
Pesawat angkasa mulai terbang meninggalkan Planet Cahaya. Dari jendela, planet itu terlihat semakin kecil, tapi cahayanya masih berkilau indah.
“Misimu hampir selesai,” kata suara lembut dari pesawat.
“Sekarang, tentukan: siapa yang akan menjadi kapten saat pulang?”
Akira terdiam sebentar. Ia menoleh ke Kenzo.
Kenzo langsung duduk tegak.
“Ehm… aku boleh nyetir dikit nggak?”
Akira tersenyum.
“Boleh. Sekarang kamu kapten.”
Mata Kenzo membesar.
“Beneran?”
“Iya,” jawab Akira mantap. “Kapten yang baik itu mau berbagi.”
[gambar: Kenzo duduk di kursi kapten, Akira di sampingnya]
[suasana bgm: ceria]
Kenzo duduk di kursi kapten. Kakinya belum sampai lantai, jadi ia mengayun-ayunkan kaki sambil fokus menatap layar.
“Aku kapten Kenzo!” katanya bangga.
Akira tertawa pelan.
“Kapten Kenzo, jangan lupa lihat peta.”
Kenzo mengangguk serius, lalu…
BEEP!
Ia tak sengaja menekan tombol klakson luar angkasa.
“PEEENG!”
Suara lucu terdengar dari luar pesawat.
Kenzo kaget, lalu tertawa.
“Ups!”
[gambar: portal cahaya menuju Jayanti Fun-Lab]
[suasana bgm: lembut dan bahagia]
Tak lama, portal cahaya menuju Jayanti Fun-Lab muncul.
“Terima kasih, Kapten dan Kopilot,” kata suara mesin.
“Kalian lulus karena bekerja sama, berani, dan jujur.”
Pesawat masuk ke portal dan… wuuusss!
[gambar: Akira dan Kenzo kembali di ruang Jayanti Fun-Lab, saling tersenyum]
[suasana bgm: ceria penutup]
Akira dan Kenzo berdiri kembali di dunia nyata.
Kenzo menatap Akira.
“Kak… besok kita main lagi ya.”
Akira mengangguk.
“Iya. Tapi gantian jadi kapten.”
Mereka tertawa bersama.
Sejak hari itu, Akira tahu:
menjadi kapten bukan soal paling hebat,
tapi soal berani jujur, mau berbagi, dan bekerja sama.
Tamat 🌟








0 komentar