Jayanti Fun Lab - Dunia Bangun Ruang

Sunday, January 11, 2026



[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di depan pintu bercahaya berbentuk kubus di Jayanti Fun-Lab]

[suasana bgm: ceria dan penuh rasa ingin tahu]


Setiap hari Sabtu pagi, Akira dan Kenzo selalu datang ke Jayanti Fun-Lab dengan mata berbinar. Akira yang berusia 9 tahun berjalan sambil membaca papan petunjuk, sedangkan Kenzo yang 6 tahun melompat-lompat seperti bola karet.


“Kenzo, jangan lari! Nanti nabrak—”

BRUK!

Kenzo berhenti mendadak tepat di depan pintu besar bercahaya.


“Hehe… aku nabrak pintu, bukan nabrak orang,” katanya polos.


Akira menghela napas. “Itu namanya hampir nabrak.”


Dari samping, terdengar suara ramah, “Siap bertualang hari ini?”

Itu Kak Anti, petugas yang selalu memandu mereka. Kak Anti tersenyum sambil menunjuk layar besar.


“Judul petualangan hari ini,” kata Kak Anti, “Dunia Bangun Ruang.”


Kenzo mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Bangun ruang itu yang bisa dibangun pakai bantal?”

Akira tertawa. “Itu bangun tidur, Zo.”


Kak Anti terkekeh. “Nanti kalian akan tahu. Jangan lupa baca doa dulu, ya.”


Akira dan Kenzo membaca doa bersama. Setelah itu, pintu berbentuk kubus terbuka perlahan.



---


[gambar: Dunia virtual penuh bentuk geometri raksasa—kubus, balok, tabung, dan bola—mengambang di udara]

[suasana bgm: magis dan ceria]


Begitu melangkah masuk, whooosh! Mereka berada di dunia yang aneh tapi indah. Tanahnya seperti papan catur, langitnya dipenuhi bentuk-bentuk berwarna.


“Wah! Kotaknya gede-gede!” seru Kenzo sambil menunjuk bangunan kubus raksasa.


“Itu kubus,” kata Akira bangga. “Punya enam sisi yang sama.”


Tiba-tiba, sebuah kubus biru melompat kecil dan berbicara, “Halo! Aku Kubi si Kubus!”


Kenzo kaget lalu tertawa. “Kubusnya bisa ngomong! Akira, dia lebih pinter dari aku gak?”


Kubi berguling pelan. “Kalau soal sisi, aku juaranya. Tapi soal makan sayur, aku kalah,” katanya.

Kenzo langsung menepuk dada. “Aku juga kalah.”



---


[gambar: Jembatan dari balok-balok tersusun rapi di atas jurang warna-warni]

[suasana bgm: sedikit menegangkan tapi tetap ceria]


Di depan mereka terbentang jembatan dari balok-balok. Di bawahnya, jurang berkilau seperti pelangi.


“Kita harus lewat sini,” kata Akira. “Balok punya panjang, lebar, dan tinggi.”


Kenzo melangkah, tapi baloknya bergoyang. “Ih, kenapa goyang?”


Kubi menjawab, “Karena kamu lompat-lompat. Coba jalan pelan.”


Kenzo mencoba lagi. Kali ini berhasil. “Yeay! Aku bisa!”

Akira tersenyum. “Kalau sabar dan fokus, jadi mudah.”


Tiba-tiba, terdengar suara whooom! dari kejauhan.



---


[gambar: Bayangan besar berbentuk bola menggelinding mendekat]

[suasana bgm: menegangkan ringan]


Sebuah bola raksasa menggelinding pelan ke arah mereka.

Kenzo menelan ludah. “Itu bola… tapi kok gede banget?”


Akira menatap mantap. “Tenang. Bola itu tidak punya sisi tajam.”


Bola itu berhenti dan tersenyum. “Benar! Aku Bola Bulat. Aku datang untuk menguji kalian.”


“Uji apa?” tanya Kenzo.


“Uji kerja sama,” jawab Bola Bulat. “Petualangan baru saja dimulai.”


Akira dan Kenzo saling pandang. Mereka tersenyum, meski jantung berdebar.



---


[gambar: Akira dan Kenzo berdiri berdampingan, siap melanjutkan petualangan di Dunia Bangun Ruang]

[suasana bgm: penuh semangat dan harapan]


Petualangan di Dunia Bangun Ruang ternyata bukan hanya soal bentuk, tapi juga tentang kerja sama, kesabaran, dan saling membantu.



---


[gambar: Akira dan Kenzo berhadapan dengan Bola Bulat di tengah dunia penuh bentuk geometri]

[suasana bgm: penuh semangat]


Bola Bulat berputar pelan lalu menunjuk ke arah jalan panjang yang berkilau.


“Untuk melanjutkan perjalanan,” katanya, “kalian harus melewati Jembatan Angin.”


Kenzo mengerjap. “Angin? Aku nanti terbang nggak?”


“Kalau kamu lari sambil teriak-teriak, mungkin,” jawab Akira jahil.


Kenzo langsung melotot. “Akiraaa!”



---


[gambar: Jembatan panjang dengan tiang-tiang berbentuk tabung di kiri dan kanan, angin berhembus lembut]

[suasana bgm: agak menegangkan tapi ringan]


Jembatan Angin ternyata dijaga oleh beberapa tabung tinggi yang berdiri tegak seperti penjaga istana.


Salah satu tabung mendekat dan membungkuk sopan.

“Halo! Aku Tubi si Tabung,” katanya dengan suara berat tapi ramah.

“Aku punya dua lingkaran dan satu sisi lengkung.”


Kenzo memegang perut Tubi. “Perutnya licin kayak gelas minum!”


Tubi tertawa, “Betul! Tapi jangan dijatuhkan, ya.”


Angin mulai berhembus lebih kencang. Jembatan bergoyang pelan.


Akira menggenggam tangan Kenzo. “Pegang aku, Zo. Kita jalan bareng.”


Kenzo mengangguk. “Iya… tapi kalau aku jatuh, aku jatuhnya ke mana?”


Kubi si Kubus menjawab cepat, “Ke pelangi. Tapi nanti pusing tujuh keliling.”


Kenzo langsung berdiri tegak. “Oke, aku gak mau pusing.”



---


[gambar: Akira dan Kenzo berjalan pelan di jembatan sambil berpegangan tangan]

[suasana bgm: fokus dan tegang ringan]


Angin makin kencang.

Kenzo hampir terpeleset.


“Akiraaa!”


“Tenang! Jangan panik,” kata Akira. “Langkah kecil, satu-satu.”


Kenzo menarik napas dan mencoba lagi. Kali ini berhasil.


Tubi si Tabung bertepuk tangan. “Hebat! Kalian bekerja sama. Angin pun jadi jinak.”


Angin perlahan mereda, dan jembatan berhenti bergoyang.



---


[gambar: Gerbang besar berbentuk prisma segitiga muncul di ujung jembatan]

[suasana bgm: misterius dan penasaran]


Di ujung jembatan, berdiri sebuah gerbang tinggi berbentuk prisma segitiga.


Kenzo menggaruk kepala. “Ini bangun apa lagi?”


Akira berpikir sejenak. “Prisma segitiga. Alasnya segitiga, sisinya persegi panjang.”


Tiba-tiba gerbang itu berbicara, “Masuklah jika kalian ingat satu hal.”


“Apa?” tanya Kenzo.


“Ilmu akan mudah dipahami jika hati tenang dan mau belajar,” kata gerbang itu.


Akira dan Kenzo saling pandang, lalu tersenyum dan mengangguk.



---


[gambar: Cahaya terang menyelimuti Akira dan Kenzo saat melangkah masuk gerbang]

[suasana bgm: hangat dan penuh harapan]


Begitu mereka melangkah masuk, cahaya menyelimuti tubuh mereka.


Kenzo berbisik, “Akira… aku senang kita bareng.”


Akira tersenyum. “Aku juga. Ternyata belajar bisa seseru ini.”


Namun, di balik cahaya itu, menunggu tantangan baru yang lebih rumit dan lebih seru…



---


[gambar: Akira dan Kenzo keluar dari cahaya dan tiba di padang luas penuh bentuk runcing]

[suasana bgm: misterius dan penuh rasa ingin tahu]


Cahaya perlahan menghilang. Akira dan Kenzo kini berdiri di sebuah padang pasir berwarna keemasan. Di sekeliling mereka, berdiri bangunan-bangunan runcing yang menjulang tinggi.


“Aduh… bentuknya kayak topi ulang tahun,” kata Kenzo sambil menunjuk salah satunya.


“Itu kerucut,” jawab Akira. “Punya satu alas lingkaran dan satu titik puncak.”


Tiba-tiba, salah satu kerucut bergoyang dan bersuara, “Topi ulang tahun juga sedih kalau dipakai terbalik, lho.”


Kenzo terbahak. “Maaf ya, Kerucut!”



---


[gambar: Piramida besar dengan mata bercahaya lembut di tengah padang]

[suasana bgm: megah dan sedikit menegangkan]


Di tengah padang, berdiri sebuah piramida besar. Setiap sisinya berbentuk segitiga yang berkilau.


“Aku Pira si Piramida,” suaranya bergema lembut.

“Aku punya alas dan sisi-sisi segitiga yang bertemu di satu titik.”


Kenzo berbisik ke Akira, “Dia keliatan galak.”


Pira tertawa pelan. “Aku tidak galak, hanya tegas. Seperti guru matematika yang belum minum teh.”


Akira hampir tertawa, tapi menahan diri.



---


[gambar: Jalan setapak berpasir dengan tanda panah berbentuk segitiga]

[suasana bgm: tegang ringan]


Pira menunjuk dua jalan.

“Untuk lanjut, kalian harus memilih. Jalan kerucut atau jalan piramida.”


Kenzo bingung. “Yang mana yang nggak bikin jatuh?”


Akira berpikir. “Kerucut punya satu titik puncak, gampang goyang. Piramida lebih stabil.”


Kenzo mengangguk cepat. “Aku pilih yang gak goyang!”


Mereka memilih jalan piramida.


Begitu melangkah, pasir berhenti bergerak. Jalan itu kokoh.


“Pilihan yang bijak,” kata Pira. “Ilmu membantu kita mengambil keputusan.”



---


[gambar: Kerucut-kerucut kecil berbaris seperti tentara lucu]

[suasana bgm: ceria]


Kerucut-kerucut kecil tiba-tiba berbaris rapi.

“Satu titik puncak! Satu titik puncak!” mereka bernyanyi.


Kenzo ikut bernyanyi, tapi salah lirik.

“Satu titik… puncung?”


Semua kerucut terdiam… lalu tertawa bersama.



---


[gambar: Gerbang bercahaya berbentuk gabungan berbagai bangun ruang]

[suasana bgm: penuh harapan dan penasaran]


Di ujung padang, muncul gerbang besar dari gabungan kubus, tabung, bola, prisma, piramida, dan kerucut.


Sebuah suara bergema,

“Kalian sudah mengenal banyak bangun ruang. Tapi satu pelajaran penting masih menunggu.”


Akira menggenggam tangan Kenzo.

“Siap, Zo?”


Kenzo tersenyum lebar. “Siap! Selama bareng kakak.”


Cahaya gerbang terbuka perlahan.




---


[gambar: Akira dan Kenzo memasuki kota besar dari gabungan berbagai bangun ruang—rumah kubus, menara tabung, atap kerucut]

[suasana bgm: ramai, ceria, dan penuh aktivitas]


Cahaya gerbang menghilang. Di hadapan Akira dan Kenzo berdirilah sebuah kota unik. Rumah-rumahnya berbentuk kubus, jendelanya balok, menaranya tabung, dan atap-atapnya kerucut.


“Waaah… kayak kota lego!” seru Kenzo sambil berputar-putar.


Akira mengangguk kagum. “Semua bangun ruang digabung jadi satu.”


Tiba-tiba, terdengar suara lonceng.

“Perhatian! Perhatian!”

Muncul sesosok Robot Prisma dengan badan berkilau.


“Kota Gabungan butuh bantuan kalian,” kata Robot Prisma.

“Menara Penyeimbang kami hampir roboh.”



---


[gambar: Menara tinggi dari berbagai bangun ruang miring ke satu sisi]

[suasana bgm: menegangkan]


Menara itu tersusun dari balok, tabung, dan bola di bagian atas.


Kenzo langsung menunjuk. “Bola di atas! Pasti itu bikin jatuh!”


Akira menggeleng. “Belum tentu. Bisa jadi baloknya salah posisi.”


Kenzo manyun. “Kakak selalu ngerasa paling bener.”


Akira terdiam. “Kenzo juga gak mau dengerin.”


Suasana jadi canggung. Menara makin miring.



---


[gambar: Akira dan Kenzo berdiri saling membelakangi, menara hampir roboh]

[suasana bgm: tegang dan sedih]


Robot Prisma berkata lembut,

“Ilmu tanpa sikap baik tidak akan menolong siapa pun.”


Akira menarik napas. “Maaf, Zo. Aku harusnya jelasin pelan-pelan.”


Kenzo menunduk. “Aku juga maaf. Aku keburu kesel.”


Mereka saling tersenyum kecil.



---


[gambar: Akira dan Kenzo bekerja sama menyusun ulang menara]

[suasana bgm: penuh fokus dan harapan]


“Kalau bola di atas, harus ada penahan,” kata Akira.


Kenzo menambahkan balok di bawah tabung. “Biar rata.”


Perlahan, menara berdiri tegak kembali.


TING!

Menara menyala terang.


Robot Prisma bertepuk tangan. “Berhasil! Kalian lulus ujian kerja sama.”


Kenzo meloncat kecil. “Aku bantu, kan!”


Akira tertawa. “Iya, tanpa Kenzo gak bisa.”



---


[gambar: Pintu keluar bercahaya dengan tulisan ‘Pelajaran Terakhir’]

[suasana bgm: hangat dan mengharukan]


Di tengah kota, muncul pintu bercahaya.

Di atasnya tertulis: Pelajaran Terakhir.


Sebuah suara lembut berkata,

“Bangun ruang membentuk dunia. Akhlak baik membentuk hati.”


Akira dan Kenzo berpegangan tangan dan melangkah maju.



---


[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di ruang bercahaya putih dengan simbol doa di sekelilingnya]

[suasana bgm: tenang, hangat, dan penuh rasa syukur]


Cahaya lembut menyelimuti Akira dan Kenzo. Kota Gabungan perlahan menghilang, berganti ruang putih yang menenangkan. Di udara, melayang simbol-simbol bangun ruang yang berputar pelan.


Sebuah suara lembut terdengar,

“Ilmu bukan hanya untuk diingat, tapi untuk diamalkan.”


Kenzo memandang sekeliling. “Akira… ini rasanya kayak mau pulang.”


Akira mengangguk. “Iya. Tapi aku pengen inget semuanya.”



---


[gambar: Satu per satu bangun ruang muncul sambil berbicara singkat]

[suasana bgm: magis dan penuh makna]


Kubi si Kubus berguling mendekat.

“Enam sisiku mengajarkan keseimbangan. Hidup juga butuh seimbang.”


Tubi si Tabung membungkuk sopan.

“Berdiri tegak itu penting, tapi tetap harus lembut.”


Bola Bulat memantul pelan.

“Aku bisa bergerak ke mana saja. Ilmu membuatmu lebih bebas.”


Pira si Piramida berkata tegas namun hangat,

“Dasar yang kuat membuatmu tidak mudah goyah.”


Kenzo tersenyum lebar. “Mereka kayak guru, tapi gak suka nyuruh nulis.”


Semua tertawa kecil.



---


[gambar: Akira dan Kenzo membaca doa bersama sebelum pintu keluar terbuka]

[suasana bgm: syahdu dan damai]


Akira menggenggam tangan Kenzo.

“Kita baca doa, ya.”


Mereka menunduk dan berdoa bersama. Setelah itu, pintu cahaya terbuka perlahan.



---


[gambar: Akira dan Kenzo kembali ke Jayanti Fun-Lab bersama Kak Anti]

[suasana bgm: ceria dan hangat]


“Selamat datang kembali,” suara ceria Kak Anti menyapa.


Kenzo langsung bercerita, “Kak! Aku ketemu bola bisa ngomong! Terus aku hampir jatuh ke pelangi!”


Kak Anti tertawa. “Wah, seru sekali.”


Akira tersenyum tenang. “Kami belajar bangun ruang… dan belajar kerja sama.”


Kak Anti mengangguk bangga. “Itu pelajaran yang paling penting.”



---


[gambar: Akira dan Kenzo berjalan pulang sambil bercanda]

[suasana bgm: ringan dan bahagia]


Di jalan pulang, Kenzo berkata,

“Kak, ternyata kalau gak berantem, petualangannya lebih seru.”


Akira mengusap kepala adiknya.

“Iya. Kita tetap boleh beda pendapat, tapi harus saling dengar.”


Kenzo tersenyum. “Besok-besok aku mau bangun rumah dari kardus. Banyak kubusnya!”


Akira tertawa. “Jangan lupa balok dan tabung.”


Matahari pagi bersinar hangat, seolah ikut tersenyum melihat dua kakak beradik yang pulang dengan ilmu, akhlak, dan kenangan indah.



---


TAMAT 🌈

You Might Also Like

0 komentar