Jayanti Fun Lab - Dinosaurus Tukang Kebun

Saturday, January 10, 2026


 Judul: Dinosaurus Tukang Kebun

Chapter 1: Pintu Hijau yang Menggeram



---


[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di depan pintu dunia virtual Jayanti Fun-Lab yang dipenuhi gambar daun dan jejak kaki dinosaurus]


[suasana bgm: ceria dan penuh rasa ingin tahu]


Sabtu pagi selalu jadi hari favorit Akira dan Kenzo. Setelah sarapan dan salat Subuh, mereka sudah siap dengan sepatu dan ransel kecil masing-masing. Seperti biasa, tujuan mereka adalah Jayanti Fun-Lab.


“Aku duluan yang masuk!” kata Kenzo sambil berlari kecil.


“Eh, antre dong! Aku kan kakaknya,” balas Akira, sedikit kesal tapi sambil tersenyum.


Mereka memang sering bertengkar soal hal-hal kecil. Tapi anehnya, lima menit kemudian mereka sudah akur lagi.


Di dalam ruang dunia virtual, sebuah pintu besar muncul. Kali ini pintunya berwarna hijau cerah, penuh tanaman rambat, bunga aneh, dan… jejak kaki besar.


Tulisan menyala di atas pintu:

“Selamat datang di Dunia Dinosaurus Tukang Kebun!”


“DINOSAURUS?!” mata Kenzo langsung berbinar.

“Yang makan orang?” tanyanya setengah takut, setengah senang.


Akira menghela napas. “Dinosaurus itu banyak jenisnya. Nggak semuanya galak.”

Lalu ia menambahkan, “Semoga yang ini nggak doyan anak kecil.”


Kenzo langsung memeluk kaki Akira. “Kalau doyan, aku sembunyi di belakang kakak aja.”


PINTU ITU TERBUKA.



---


[gambar: Akira dan Kenzo masuk ke dunia prasejarah yang hijau, penuh pohon besar, bunga warna-warni, dan kebun luas]


[suasana bgm: ceria dengan suara alam]


Begitu masuk, mereka langsung disambut udara segar. Di depan mereka terbentang kebun raksasa—ada pohon buah setinggi gedung, sayuran sebesar ban mobil, dan bunga yang bisa… bergerak pelan seperti sedang menari.


“Wah… kebun siapa ini?” kata Akira kagum.


Tiba-tiba…

DUUUK… DUUUK… DUUUK…


Tanah bergetar.


Kenzo menjerit kecil. “Itu pasti dinosaurus galak!”


Dari balik semak-semak, muncullah seekor dinosaurus besar… berwarna hijau muda, bermata ramah, dan… memakai topi jerami.


Di tangannya—eh, di kukunya—ada sekop taman.


[gambar: Dinosaurus besar memakai topi jerami sambil membawa sekop, tersenyum]


[suasana bgm: lucu dan ringan]


“Halo, anak-anak!” kata dinosaurus itu dengan suara berat tapi lembut.


Kenzo melongo. “DINOSAURUS BISA NGOMONG?!”


Akira berbisik, “Kenzo… kamu juga lagi ngomong sama dinosaurus.”


Dinosaurus itu tertawa. “Namaku Tora, dinosaurus tukang kebun! Aku menanam sayur dan buah untuk semua makhluk di dunia ini.”


Kenzo langsung menunjuk wortel raksasa di belakang Tora. “Itu wortel apa roket?”


Tora tertawa lebih keras sampai burung-burung beterbangan. “Itu wortel! Tapi memang kebesaran… aku kebanyakan pupuk.”


Akira dan Kenzo ikut tertawa.


Namun, tiba-tiba senyum Tora memudar.


“Aduh… kebunku sedang bermasalah,” kata Tora sambil menggaruk kepala. “Tanamanku mulai layu, dan aku tidak tahu kenapa.”


Angin bertiup pelan. Daun-daun besar bergoyang pelan, seolah ikut sedih.



---


[gambar: Tanaman besar mulai sedikit layu, Akira dan Kenzo saling berpandangan]


[suasana bgm: mulai sedikit menegangkan dan penuh misteri]


Akira menatap Kenzo. “Kayaknya… kita bakal punya petualangan lagi.”


Kenzo mengangguk cepat. “Asal dinosaurusnya baik dan nggak ngejar-ngejar.”


Tora tersenyum penuh harap.

“Maukah kalian membantuku menyelamatkan kebun ini?”


Akira dan Kenzo belum tahu, bahwa kebun dinosaurus ini menyimpan rahasia besar… dan petualangan mereka baru saja dimulai.


[gambar: Akira, Kenzo, dan Tora berdiri di kebun luas dengan tanaman besar, sebagian mulai layu]


[suasana bgm: penasaran dan lembut]


Tora mengajak Akira dan Kenzo berjalan menyusuri kebunnya. Setiap langkah Tora membuat tanah bergetar pelan.


“Tenang aja,” kata Tora sambil tersenyum. “Aku ini herbivora, pemakan tumbuhan. Jadi lebih suka salad daripada… anak kecil.”


Kenzo langsung menghela napas lega.

“Syukurlah… aku nggak mau jadi bakso prasejarah.”


Akira terkikik.


Sambil berjalan, Tora mulai bercerita, “Aku sebenarnya jenis Triceratops. Ciri khas kami itu punya tiga tanduk dan tubuh besar. Kami hidup sekitar 68 juta tahun yang lalu.”


Kenzo menatap tanduk Tora. “Yang satu, dua, tiga… beneran tiga! Aku kira cuma hiasan.”


“Bukan hiasan,” kata Tora bangga. “Tanduk ini dulu dipakai untuk melindungi diri dari dinosaurus pemakan daging.”



---


[gambar: Ilustrasi bayangan dinosaurus Triceratops dan dinosaurus pemakan daging di kejauhan]


[suasana bgm: edukatif tapi tetap ringan]


Akira penasaran. “Memang ada dinosaurus pemakan daging di sini?”


Tora mengangguk. “Ada. Misalnya Tyrannosaurus rex, atau T-Rex. Giginya tajam dan badannya besar. Tapi tenang, dia jarang ke kebun. Katanya sayur bikin sakit gigi.”


Kenzo tertawa keras. “Pantes galak, kurang makan sayur!”


Mereka sampai di bagian kebun yang paling parah. Tanahnya retak-retak, dan daun-daun tampak lemas seperti kelelahan.


Kenzo jongkok dan menyentuh tanah. “Kok tanahnya kering banget ya?”


Tora mengangguk pelan. “Padahal biasanya tanah di sini subur. Aku sudah menyiram dan memberi pupuk dari daun-daun busuk, tapi tetap tidak berhasil.”


Akira mengingat sesuatu. “Di sekolah, aku belajar kalau tanaman butuh air, udara, dan unsur hara dari tanah. Kalau salah satunya hilang, tanaman bisa layu.”


Tora terkejut. “Wah, kamu pintar sekali!”


Akira tersipu. “Hehe… biasa aja.”



---


[gambar: Akar tanaman besar yang terlihat kusut dan saling bertindihan di bawah tanah]


[suasana bgm: sedikit menegangkan dan misterius]


Tiba-tiba terdengar suara aneh dari bawah tanah.

KREEEKKK… GROOOSSS…


Kenzo refleks bersembunyi di belakang Akira. “Itu suara perut dinosaurus lapar?”


Tora menggeleng. “Bukan. Itu dari bawah akar tanaman.”


Mereka melihat akar-akar tanaman saling menumpuk dan melilit, membuat air tidak bisa mengalir dengan baik.


“Oh!” Akira berseru. “Akar yang terlalu padat bisa bikin tanaman susah menyerap air.”


Tora menepuk dahinya. “Pantas saja! Aku menanam terlalu rapat karena ingin kebunku cepat penuh.”


Kenzo mengangguk sok bijak. “Kebanyakan itu nggak selalu baik. Kayak… kebanyakan permen.”


Tora dan Akira langsung setuju. “Betul!”


Namun, sebelum mereka sempat memperbaiki kebun, tanah tiba-tiba bergetar lebih kuat.


DUUUMM… DUUUMM…


Dari kejauhan terdengar auman keras.


Tora menegakkan badannya. “Itu bukan T-Rex…”


Akira menelan ludah. “Terus siapa?”


Tora menjawab pelan, “Kemungkinan… Velociraptor. Dinosaurus kecil, tapi sangat cerdas dan cepat.”


Kenzo membelalakkan mata. “KECIL TAPI GALAK?! Itu lebih serem!”


Angin bertiup kencang, daun-daun beterbangan.


Petualangan mereka di kebun dinosaurus ternyata belum selesai—dan bahaya mulai mendekat.


---


[gambar: Akira, Kenzo, dan Tora bersembunyi di balik tanaman raksasa, daun-daun bergoyang]


[suasana bgm: menegangkan tapi seru]


DUUUM! DUUUM!

Getaran tanah semakin kuat.


Dari balik pohon pakis raksasa, muncul seekor dinosaurus bertubuh ramping, bermata tajam, dan bergerak sangat cepat.


“Itu dia…” bisik Tora. “Velociraptor.”


Kenzo menutup mulutnya. “Kok kecil tapi jalannya kayak mau balapan lari, sih?”


Akira mengingat pelajaran yang pernah ia baca. “Velociraptor itu memang tidak sebesar T-Rex, tapi cerdas dan bisa bekerja dalam kelompok.”


Velociraptor itu mengendus tanah, lalu berhenti tepat di dekat kebun yang layu.


“Ada yang salah dengan tanah ini,” kata Velociraptor dengan suara licik. “Tanamannya jadi mudah dicabut.”


Kenzo berbisik panik, “Dia bisa ngomong juga?! Dunia ini aneh tapi keren…”



---


[gambar: Velociraptor mencabut tanaman layu dengan mudah]


[suasana bgm: tegang]


Velociraptor mencabut satu tanaman besar dengan sekali tarik.

KRAAAK!


Tora langsung berdiri. “Hei! Jangan rusak kebunku!”


Velociraptor menoleh dan tersenyum miring. “Kebunmu terlalu rapat, Tora. Aku cuma… memanfaatkan keadaan.”


Akira cepat berpikir. “Kalau akar-akar ini diperbaiki, tanahnya bakal kuat lagi. Kita harus memisahkan tanaman!”


Kenzo mengangguk semangat. “Aku bisa bantu! Tapi jangan suruh aku dorong dinosaurus ya!”



---


[gambar: Akira menunjuk arah, Kenzo membawa alat kecil, Tora bersiap dengan sekop]


[suasana bgm: cepat dan penuh aksi]


Mereka bekerja sama.

Tora menggunakan sekopnya untuk melonggarkan tanah.

Akira memberi arahan agar jarak tanam lebih rapi.

Kenzo… sibuk mengingatkan.


“Yang itu jangan terlalu dekat! Itu nanti berantem akarnya!”

“Kenzo, itu tanaman, bukan anak-anak,” kata Akira sambil tertawa.


Tanah mulai berubah. Air mengalir lebih lancar, dan tanaman terlihat lebih segar.


Velociraptor mencoba mencabut lagi, tapi kali ini…

GAGAL!


“Hah? Kok susah?” gerutunya.


Tora tersenyum bangga. “Karena tanah yang sehat membuat tanaman kuat.”



---


[gambar: Tanaman kembali segar, Velociraptor mundur]


[suasana bgm: kemenangan dan ceria]


Velociraptor mundur pelan. “Hmph… kerja tim yang bagus. Aku kalah kali ini.”


Ia berlari pergi, cepat sekali sampai hanya tersisa debu.


Kenzo melompat kegirangan. “KITA MENANG! Aku pahlawan kebun!”


Akira tertawa. “Pahlawan pengingat jarak tanam.”


Tora tertawa keras sampai topi jeraminya hampir jatuh. “Terima kasih, Akira dan Kenzo. Kalian mengajarkanku bahwa menanam dengan bijak dan tidak berlebihan itu penting.”



---


[gambar: Akira, Kenzo, dan Tora berdiri di kebun yang kembali hijau]


[suasana bgm: hangat dan damai]


Tora menambahkan, “Seperti dalam hidup juga. Allah menyukai keseimbangan.”


Akira dan Kenzo saling pandang dan mengangguk.


Namun, di kejauhan, awan mulai bergerak cepat.

Angin berubah arah.


Tora menatap langit. “Hmm… cuaca prasejarah akan berubah. Kita harus bersiap.”


Kenzo menelan ludah. “Lagi?!”


Akira tersenyum kecil. “Namanya juga petualangan.”



---


[gambar: Langit prasejarah berubah agak mendung, kebun dinosaurus tampak hijau dan subur]


[suasana bgm: tenang, sedikit haru]


Angin bertiup lembut di kebun Tora. Awan besar bergerak perlahan, lalu…

TIIIK… TIIIK…

Hujan turun dengan rintik kecil.


“Wah, hujan!” seru Kenzo. “Ini hujan dinosaurus atau hujan biasa?”


Akira tertawa. “Air hujan tetap air hujan, Kenzo. Sama-sama dari Allah.”


Tora menengadahkan wajahnya. “Hujan ini pas sekali. Tidak terlalu deras, tidak terlalu lama. Kebun butuh air secukupnya.”


Tanaman-tanaman tampak semakin segar. Daun-daun yang tadi layu kini berdiri tegak, seolah ikut tersenyum.



---


[gambar: Tanaman raksasa tumbuh sehat, air mengalir di tanah kebun]


[suasana bgm: hangat dan penuh rasa syukur]


Tora lalu duduk dengan hati-hati agar tidak menginjak tanaman.

“Akira, Kenzo, hari ini aku belajar banyak,” katanya.

“Dulu aku pikir semakin banyak menanam, semakin baik. Tapi ternyata, keseimbangan itu penting.”


Akira mengangguk. “Seperti belajar juga. Kalau main terus, lupa belajar. Kalau belajar terus, capek.”


Kenzo menimpali cepat. “Kalau makan permen terus, gigi bolong!”


Mereka semua tertawa.


Tora tersenyum lebar. “Kalian mengingatkanku bahwa Allah menciptakan alam dengan aturan. Kalau kita menjaganya, alam akan menjaga kita.”



---


[gambar: Cahaya lembut muncul, tanda pintu kembali ke Jayanti Fun-Lab terbuka]


[suasana bgm: lembut dan perpisahan]


Tiba-tiba cahaya lembut muncul di tengah kebun. Pintu dunia virtual mulai terbuka kembali.


“Sepertinya waktu kalian di sini sudah habis,” kata Tora dengan suara hangat.


Kenzo mendadak sedih. “Aku belum sempat nanam wortel roket…”


Tora tertawa kecil. “Nanti kalau kalian datang lagi, kita tanam bersama.”


Akira menunduk sopan. “Terima kasih, Tora. Kami belajar banyak hari ini.”



---


[gambar: Akira dan Kenzo melambaikan tangan pada Tora]


[suasana bgm: ceria bercampur haru]


Sebelum mereka masuk ke pintu, Tora berkata,

“Jangan lupa, anak-anak. Kerja sama, keseimbangan, dan menjaga alam adalah kunci kehidupan.”


Kenzo melambaikan tangan sambil berseru, “Dadah, dinosaurus tukang kebun! Jangan kebanyakan pupuk lagi ya!”


Tora tertawa keras. “Siap!”



---


[gambar: Akira dan Kenzo kembali ke Jayanti Fun-Lab, tersenyum]


[suasana bgm: ceria penutup]


Saat kembali ke dunia nyata, Akira dan Kenzo saling pandang.


“Sabtu depan kita ke sini lagi?” tanya Kenzo.


Akira tersenyum. “Tentu. Siapa tahu ketemu dinosaurus tukang masak.”


Kenzo langsung semangat. “ASAL BUKAN MAKAN KITA!”


Mereka tertawa bersama.


TAMAT 🌱🦖



You Might Also Like

0 komentar