Jayanti Fun Lab - Gunung Api Pelangi
Thursday, January 01, 2026
[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di depan gedung Jayanti Fun-Lab yang penuh lampu warna-warni, Sabtu pagi cerah]
[suasana bgm: ceria dan penuh rasa penasaran]
Setiap hari Sabtu pagi, Akira dan Kenzo selalu bangun lebih cepat dari biasanya.
Bukan karena sekolah—tapi karena satu tempat favorit mereka: Jayanti Fun-Lab.
Akira, kakak berusia 9 tahun, sudah rapi dengan ransel kecilnya. Di dalamnya ada botol minum, buku catatan, dan… pensil warna favoritnya.
Kenzo, adiknya yang berusia 6 tahun, masih sibuk memakai sepatu sambil meloncat-loncat seperti kelinci.
“Aku yang duluan masuk nanti!” kata Kenzo dengan penuh semangat.
“Masuk apa? Kita masih di rumah,” jawab Akira sambil menghela napas.
“Hehe… maksudnya nanti!” Kenzo nyengir.
Walaupun sering bertengkar kecil, mereka selalu pergi bersama. Sebelum berangkat, Mama mengingatkan,
“Jaga adab, saling tolong-menolong, dan jangan lupa berdoa.”
Akira dan Kenzo mengangguk kompak. “Siap!”
---
[gambar: Ruang utama Jayanti Fun-Lab dengan pintu-pintu dunia virtual berbentuk lingkaran bercahaya]
[suasana bgm: lembut, futuristik, sedikit magis]
Di dalam Jayanti Fun-Lab, lampu-lampu berkilau seperti bintang.
Seorang petugas ramah menyambut mereka.
“Halo, petualang cilik!” sapa Kak Anti, sambil tersenyum lebar.
“Hari ini mau pilih cerita sendiri atau acak?”
Kenzo langsung mengangkat tangan. “Acak! Acak! Biar kejutan!”
Akira mengernyit. “Kalau terlalu seram gimana?”
Kak Anti tertawa kecil. “Tenang, ceritanya aman dan penuh pelajaran.”
Layar besar di depan mereka mulai berputar.
Tulisan-tulisan muncul, lalu berhenti pada satu judul yang bersinar terang.
✨ GUNUNG BERAPI 7 WARNA ✨
“Gunung berapi?” Kenzo melotot. “Meletus dong?”
Akira menelan ludah. “Tujuh warna… kok kayak pelangi?”
---
[gambar: Akira dan Kenzo memakai helm virtual, lantai mulai bercahaya di bawah kaki mereka]
[suasana bgm: perlahan berubah menjadi misterius]
“Siap?” tanya Kak Anti.
“Siap!” jawab Akira.
“SUPER SIAP!” teriak Kenzo—lalu hampir tersandung karena terlalu semangat.
Cahaya menyelimuti mereka.
Angin sejuk bertiup.
Dan… whooosh!
---
[gambar: Akira dan Kenzo tiba di kaki gunung besar dengan tujuh aliran warna berbeda: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu]
[suasana bgm: kagum dan megah]
Mereka kini berdiri di sebuah pulau asing.
Di depan mereka menjulang Gunung Berapi raksasa, tetapi anehnya… tidak menakutkan.
Gunung itu mengeluarkan tujuh aliran cahaya warna-warni, bukan lava panas.
Merah berkilau seperti api, hijau berpendar lembut seperti daun, biru berkilap seperti air laut.
“Waaah… cantik banget!” seru Kenzo.
Akira mengangguk pelan. “Ini bukan gunung berapi biasa.”
Tiba-tiba tanah bergetar duk… duk…
Kenzo langsung memeluk kaki Akira. “Kak… aku cuma numpang kaki ya.”
“Ini kakiku, bukan tiang bendera!” protes Akira, tapi tetap membiarkan Kenzo berpegangan.
---
[gambar: Makhluk kecil bercahaya seperti peri batu muncul dari tanah]
[suasana bgm: sedikit menegangkan tapi tetap ramah]
Dari balik batu, muncul makhluk kecil bercahaya dengan suara lembut.
“Selamat datang, wahai anak-anak,” katanya.
“Kalian telah dipilih untuk menjaga keseimbangan Gunung Berapi 7 Warna.”
Akira dan Kenzo saling berpandangan.
“Dipilih?” tanya Akira.
“Menjaga?” Kenzo berbisik. “Aku masih susah jaga sandal sendiri…”
Makhluk itu tersenyum.
“Petualangan kalian baru saja dimulai.”
Angin berhembus lebih kencang, dan warna-warna di gunung mulai berkedip tidak stabil.
---
[gambar: Gunung berapi tujuh warna mulai bergetar pelan, cahaya warnanya bergoyang]
[suasana bgm: menegangkan, pelan]
Akira menggenggam tangan Kenzo.
“Apa pun yang terjadi,” katanya pelan, “kita hadapi bareng, ya.”
Kenzo mengangguk cepat. “Iya… tapi habis ini, kita lari kalau perlu.”
Di kejauhan, terdengar suara gemuruh misterius.
Petualangan besar pun dimulai…
—
[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di jalur batu merah berkilau di kaki gunung berapi]
[suasana bgm: menegangkan ringan, penuh rasa ingin tahu]
Gemuruh yang tadi terdengar perlahan mereda.
Makhluk kecil bercahaya itu melayang di depan Akira dan Kenzo.
“Aku Lumi, penjaga kecil Gunung Berapi 7 Warna,” katanya ramah.
“Setiap warna di gunung ini punya tugas penting. Jika satu warna kacau, seluruh gunung bisa kehilangan keseimbangannya.”
Kenzo mengangkat tangan. “Kayak kalau satu roda sepeda copot?”
Lumi tersenyum. “Kurang lebih begitu… tapi ini versi gunung berapi.”
Akira menatap aliran warna merah yang tampak paling redup dibanding warna lainnya.
“Kenapa yang merah kelihatan lemah?”
Lumi menghela napas kecil.
“Karena warna Merah—warna semangat dan keberanian—sedang kehilangan panasnya.”
---
[gambar: Aliran warna merah yang mulai memudar, seperti bara api hampir padam]
[suasana bgm: khawatir tapi lembut]
Tiba-tiba tanah di sekitar mereka terasa dingin.
Padahal seharusnya jalur merah terasa hangat.
Kenzo menggosok lengannya. “Lho? Gunung berapi kok dingin?”
Akira berpikir keras. “Berarti ada yang salah…”
Lumi mengangguk.
“Warna Merah melemah karena makhluk penjaga api sedang bertengkar dan saling menyalahkan. Api tidak suka pertengkaran.”
Kenzo melirik Akira.
Akira melirik balik.
“Kenzo…”
“Apa, Kak?”
“Kita sering bertengkar juga, ya?”
Kenzo nyengir kecil. “Iya… tapi aku kan cuma sedikit berisik.”
---
[gambar: Dua makhluk api kecil berwarna merah menyala, saling membelakangi dengan wajah kesal]
[suasana bgm: sedikit lucu tapi tegang]
Di atas batu besar, terlihat dua makhluk api kecil.
Yang satu menyilangkan tangan, yang satu lagi menendang kerikil panas—cih!
“Aku nggak mau nyala duluan!”
“Pokoknya kamu yang mulai minta maaf!”
Kenzo berbisik, “Kak… itu kayak kita waktu rebutan mainan.”
Akira mengangguk pelan. “Iya… mirip banget.”
Lumi berbisik,
“Jika mereka tidak berdamai, warna Merah akan padam. Dan gunung bisa kehilangan keberanian untuk menjaga pulau ini.”
---
[gambar: Akira melangkah maju dengan hati-hati, Kenzo mengikuti di belakang]
[suasana bgm: harapan muncul]
Akira menarik napas, lalu berkata,
“Kalau boleh… kadang minta maaf itu bukan karena kita salah, tapi karena kita ingin keadaan jadi baik.”
Makhluk api itu melirik.
Kenzo ikut menambahkan, dengan suara polos,
“Kalau api padam, nanti nggak bisa masak mie dong…”
Semua terdiam.
Lalu—
plop!
Salah satu makhluk api tertawa kecil.
“Mie?”
Makhluk satunya ikut terkekeh. “Iya juga…”
---
[gambar: Dua makhluk api saling mendekat, cahaya merah kembali menyala terang]
[suasana bgm: hangat, ceria]
Perlahan, warna merah di gunung kembali bersinar terang.
Hangatnya terasa nyaman, bukan panas yang menakutkan.
“Terima kasih,” kata makhluk api itu.
“Kalian mengingatkan kami tentang damai dan saling memaafkan.”
Gunung berapi bergetar lembut—kali ini bukan karena bahaya, tapi karena keseimbangan mulai kembali.
Lumi tersenyum cerah.
“Satu warna telah terselamatkan.”
Kenzo menghela napas lega.
“Alhamdulillah… Kak, nanti kalau kita bertengkar, ingetin aku soal api ya.”
Akira tersenyum.
“Iya. Kita jaga ‘warna merah’ kita sendiri.”
---
[gambar: Jalur warna jingga terlihat berkilau di kejauhan, seperti memanggil]
[suasana bgm: misterius, mengundang petualangan]
Namun di kejauhan, warna jingga mulai bergetar aneh.
Lumi menoleh ke sana.
“Petualangan belum selesai… Warna berikutnya menunggu.”
Akira dan Kenzo saling berpandangan, lalu melangkah bersama.
—
[gambar: Akira dan Kenzo berjalan di jalur cahaya jingga yang berkelok-kelok seperti labirin]
[suasana bgm: petualangan, penuh rasa ingin tahu]
Jalur warna jingga terlihat berbeda dari yang merah.
Jalannya berbelok-belok, naik turun, dan bercabang ke mana-mana.
“Ini jalannya muter-muter kayak mie instan belum diaduk,” kata Kenzo.
Akira menahan tawa. “Justru kalau belum diaduk, kita harus tahu mau mulai dari mana.”
Lumi melayang di depan mereka.
“Warna Jingga adalah warna akal dan pilihan. Ia membantu makhluk di pulau ini menentukan arah dan keputusan.”
Tiba-tiba…
woooosh!
Angin berputar kencang, membuat cahaya jingga berputar tak beraturan.
---
[gambar: Tanda panah jingga berputar-putar dan berubah arah sendiri]
[suasana bgm: sedikit panik tapi tetap ramah anak]
“Lho! Panahnya muter sendiri!” seru Kenzo.
“Jadi kita ke kanan atau ke kiri?” tanya Akira bingung.
Lumi terlihat khawatir.
“Warna Jingga sedang kacau. Makhluk Penunjuk Arah di sini terlalu banyak bicara, tapi tidak mau mendengar.”
Dari balik kabut jingga, terdengar suara ribut.
“Aku paling tahu!”
“Tidak, aku yang paling benar!”
“Pokoknya ikut aku!”
Kenzo menutup telinga. “Aduh… berisik banget.”
---
[gambar: Tiga makhluk kecil jingga dengan kompas di kepala, saling menunjuk dan berdebat]
[suasana bgm: komedi ringan, ribut lucu]
Tiga makhluk jingga terlihat saling menunjuk sambil berteriak.
Kompas di kepala mereka berputar cepat—kring kring kring!
Akira memperhatikan dengan saksama.
“Mereka semua ingin didengar, tapi tidak mau mendengar.”
Kenzo mengangguk. “Kayak kalau kita main bareng temen, semua mau jadi ketua.”
Lumi tersenyum tipis.
“Betul. Tanpa saling mendengar, arah akan selalu kacau.”
---
[gambar: Akira duduk bersila, Kenzo ikut duduk di sampingnya]
[suasana bgm: menenangkan]
Akira lalu duduk bersila.
Kenzo ikut duduk, meski awalnya salah posisi sampai hampir jatuh.
“Ayo kita tenang dulu,” kata Akira.
“Kalau tenang, kita bisa berpikir.”
Kenzo menambahkan polos,
“Kalau nggak tenang, nanti pusing terus pengen makan.”
Makhluk-makhluk jingga itu terdiam.
---
[gambar: Salah satu makhluk jingga mendekat, kompasnya mulai berputar pelan]
[suasana bgm: harapan tumbuh]
“Jadi… kami harus bagaimana?” tanya salah satu makhluk.
Akira menjawab lembut,
“Mungkin… dengarkan satu sama lain dulu. Lalu pilih bersama.”
Makhluk jingga saling berpandangan.
Mereka menarik napas… dan untuk pertama kalinya, diam.
Kompas di kepala mereka berhenti berputar.
---
[gambar: Jalur jingga kembali lurus dan terang, panah menunjukkan satu arah jelas]
[suasana bgm: ceria dan lega]
Cahaya jingga kembali stabil.
Jalurnya kini lurus dan terang.
“Warna Jingga telah kembali,” kata Lumi bahagia.
“Kalian telah mengajarkan arti musyawarah dan mendengarkan.”
Kenzo tersenyum bangga.
“Berarti aku harus lebih sering dengerin Kak Akira ya…”
Akira tertawa kecil.
“Dan aku juga harus dengerin Kenzo.”
---
[gambar: Jalur warna kuning tampak berkilau terang seperti matahari kecil di kejauhan]
[suasana bgm: cerah tapi misterius]
Namun di kejauhan, warna kuning tampak bersinar terlalu terang—hingga menyilaukan.
Lumi menoleh cepat.
“Cahaya berlebihan juga bisa berbahaya…”
Akira dan Kenzo bersiap melangkah.
[gambar: Akira dan Kenzo berjalan mendekati jalur warna kuning yang sangat terang seperti matahari kecil]
[suasana bgm: cerah tapi perlahan terasa tegang]
Cahaya warna kuning begitu terang sampai Akira harus menutupi matanya.
Kenzo memicingkan mata sambil berjalan zig-zag.
“Aduh silau… rasanya kayak lihat lampu motor dari dekat,” keluh Kenzo.
“Pelan-pelan,” kata Akira, “jangan asal jalan.”
Lumi melayang lebih rendah.
“Warna Kuning adalah warna percaya diri dan kegembiraan. Tapi kalau berlebihan, bisa membuat lupa diri.”
---
[gambar: Makhluk-makhluk kuning tertawa keras sambil berlari tanpa arah]
[suasana bgm: riuh, sedikit kacau]
Di sekitar mereka, makhluk-makhluk kuning berlari sambil tertawa terbahak-bahak.
Mereka berlomba-lomba, saling mendahului, dan tidak memperhatikan sekitar.
“Hei! Aku paling hebat!”
“Aku paling cepat!”
“Aku paling bersinar!”
Kenzo menunjuk. “Mereka kayak lomba siapa paling rame.”
Akira mengangguk. “Tapi nggak ada yang peduli kalau ada yang jatuh.”
Benar saja—bruk!
Satu makhluk kuning tersandung, tapi yang lain malah tertawa lebih keras.
---
[gambar: Akira membantu makhluk kuning yang jatuh, Kenzo ikut memegangi]
[suasana bgm: lembut, penuh empati]
Akira segera membantu makhluk itu berdiri.
Kenzo ikut memegangi tangannya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Kenzo tulus.
Makhluk itu terdiam.
“Tidak ada yang pernah tanya begitu,” katanya pelan.
Cahaya kuning di sekitarnya sedikit meredup.
---
[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di tengah cahaya kuning yang mulai lembut]
[suasana bgm: hangat dan tenang]
Akira berkata,
“Percaya diri itu baik. Tapi lebih baik lagi kalau disertai kepedulian dan rendah hati.”
Makhluk-makhluk kuning saling memandang.
Tawa mereka perlahan mengecil.
Kenzo menambahkan polos,
“Kalau semua mau paling hebat, nanti capek sendiri.”
Beberapa makhluk kuning tertawa kecil—kali ini bukan mengejek.
---
[gambar: Cahaya kuning berubah lembut seperti sinar pagi, tidak lagi menyilaukan]
[suasana bgm: damai dan ceria]
Perlahan, warna kuning menjadi hangat dan menenangkan, seperti sinar matahari pagi.
Tidak menyilaukan, tapi memberi semangat.
“Warna Kuning kembali seimbang,” ujar Lumi bahagia.
“Kalian mengajarkan arti tawadhu dan empati.”
Kenzo tersenyum lebar.
“Berarti boleh percaya diri, tapi nggak boleh sombong ya.”
Akira mengangguk. “Betul.”
---
[gambar: Lima warna sudah stabil, tersisa biru, nila, dan ungu di puncak gunung]
[suasana bgm: agung dan sedikit tegang]
Namun tiba-tiba…
Gunung bergetar lebih kuat dari sebelumnya.
GROOOM…
Lumi menatap puncak gunung dengan cemas.
“Warna terakhir berada di atas… dan yang paling sulit.”
Angin dingin berhembus.
Cahaya biru, nila, dan ungu berputar bersamaan.
Akira menggenggam tangan Kenzo lebih erat.
Kenzo berbisik, “Kak… kita baca doa aja yuk.”
Akira mengangguk. “Bismillah.”
[gambar: Akira dan Kenzo mendaki menuju puncak gunung berapi, dikelilingi cahaya biru, nila, dan ungu yang berputar]
[suasana bgm: agung, tenang, penuh harap]
Udara di puncak gunung terasa sejuk.
Cahaya biru, nila, dan ungu berputar seperti awan bercahaya.
Kenzo berjalan lebih pelan.
“Kak… di sini rasanya beda. Tenang tapi bikin deg-degan.”
Lumi melayang lebih dekat.
“Tiga warna terakhir adalah yang paling dalam maknanya,” katanya lembut.
“Biru adalah ketenangan, nila adalah kejujuran, dan ungu adalah kebijaksanaan.”
---
[gambar: Danau kecil berwarna biru jernih di puncak gunung]
[suasana bgm: sangat tenang]
Di hadapan mereka terbentang danau biru yang airnya jernih seperti kaca.
Namun airnya beriak tak tenang.
“Biru kehilangan ketenangannya,” kata Lumi.
“Karena makhluk di sini terlalu sering panik.”
Kenzo jongkok dan melihat bayangannya sendiri.
“Kalau panik, bayangan jadi goyang.”
Akira tersenyum.
“Kalau tenang, kita bisa lihat lebih jelas.”
Mereka menarik napas bersama.
Danau perlahan menjadi tenang kembali.
---
[gambar: Jembatan cahaya nila yang berkilau lembut]
[suasana bgm: khidmat]
Mereka melangkah ke jembatan nila.
Namun jembatan itu retak-retak.
“Kenapa jembatannya rusak?” tanya Kenzo.
“Karena ada yang tidak jujur,” jawab Lumi.
“Kejujuran adalah penghubung.”
Akira berkata tegas tapi lembut,
“Bilang jujur itu mungkin berat, tapi membuat jalan jadi kuat.”
Kenzo mengangguk.
“Iya… kayak kalau bilang sepatuku hilang karena aku lupa naruhnya.”
Jembatan nila bersinar kembali dan utuh.
---
[gambar: Cahaya ungu membentuk lingkaran seperti mahkota di puncak gunung]
[suasana bgm: megah dan damai]
Di puncak tertinggi, cahaya ungu berputar membentuk lingkaran indah.
“Ungu adalah kebijaksanaan,” kata Lumi.
“Ia lahir dari pengalaman, kesabaran, dan mau belajar.”
Akira dan Kenzo saling berpandangan.
Mereka teringat semua yang telah mereka lalui—bertengkar, berdamai, mendengar, peduli, jujur.
Cahaya ungu bersinar semakin terang.
---
[gambar: Gunung Berapi 7 Warna memancarkan pelangi besar ke langit]
[suasana bgm: ceria, haru, penuh kemenangan]
Tiba-tiba, seluruh warna menyatu.
Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu membentuk pelangi besar di langit.
Gunung Berapi 7 Warna kini seimbang dan indah.
“Kalian berhasil,” kata Lumi dengan mata berbinar.
“Kalian menjaga gunung ini dengan hati yang baik.”
Kenzo tersenyum lebar.
“Berarti… kita lulus ya, Kak?”
Akira tertawa kecil.
“Mungkin bukan lulus… tapi belajar.”
---
[gambar: Akira dan Kenzo kembali ke Jayanti Fun-Lab, helm virtual terlepas]
[suasana bgm: lembut, kembali ke dunia nyata]
Cahaya perlahan memudar.
Akira dan Kenzo membuka helm virtual mereka.
“Petualangan selesai,” kata Kak Anti sambil tersenyum.
“Bagaimana ceritanya?”
Kenzo menjawab cepat,
“Seru! Gunungnya warna-warni! Dan… ternyata bertengkar bikin ‘api’ padam.”
Akira mengangguk.
“Dan kalau saling dengar, peduli, jujur, dan tenang… semuanya jadi indah.”
Kak Anti tersenyum bangga.
“Itu pelajaran yang sangat berharga.”
---
[gambar: Akira dan Kenzo berjalan pulang sambil bergandengan tangan, pelangi di langit sore]
[suasana bgm: hangat, penutup yang menenangkan]
Di perjalanan pulang, Akira dan Kenzo berjalan berdampingan.
“Besok kalau kita bertengkar lagi…” kata Kenzo pelan.
“Kita ingat Gunung Berapi 7 Warna,” sambung Akira.
Kenzo mengangguk mantap.
“Biar hati kita juga jadi pelangi.”
TAMAT 🌈✨








0 komentar