Jayanti Fun Lab - Monster-Monster Sampah yang Bersahabat
Friday, January 16, 2026[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di depan Jayanti Fun-Lab dengan pintu virtual berkilau]
[suasana bgm: ceria dan penuh rasa ingin tahu]
Setiap hari Sabtu pagi, Akira dan Kenzo selalu bangun lebih cepat dari alarm. Padahal biasanya, Kenzo itu juara susah bangun. Tapi hari ini berbeda.
“Kenzo, bangun! Kita ke Jayanti Fun-Lab!” seru Akira sambil menggoyang bahu adiknya.
Kenzo membuka satu mata. “Lima menit lagi…”
Akira menghela napas. “Kalau lima menit lagi, nanti judul petualangannya diacak, lho.”
Mata Kenzo langsung terbuka lebar. “HAH?! Jangan diacak! Aku mau yang seru!”
Akhirnya, dengan kaus yang masih sedikit terbalik (Kenzo baru sadar setelah ditegur Akira), mereka tiba di Jayanti Fun-Lab.
[gambar: Ruang virtual Jayanti Fun-Lab dengan layar besar dan tombol-tombol warna-warni]
[suasana bgm: ceria]
Di sana sudah ada Kak Anti, petugas yang selalu ramah dan sabar, meskipun sering menghadapi anak-anak super aktif.
“Assalamu’alaikum, Akira, Kenzo,” sapa Kak Anti.
“Wa’alaikumussalam!” jawab mereka kompak—meski setelah itu Kenzo berbisik, “Kak Anti kok selalu tahu nama kita, ya?”
Akira nyeletuk, “Soalnya kamu terkenal suka jatuhin botol minum di sini.”
Kenzo cemberut. “Itu cuma… sekali.”
Kak Anti tersenyum sambil pura-pura serius. “Sekali, tapi bunyinya keras banget.”
Mereka pun memilih judul petualangan hari ini:
Monster-Monster Sampah yang Bersahabat.
“Monster?” Kenzo agak ragu. “Seram nggak?”
“Tenang,” kata Kak Anti. “Monster di sini bukan untuk ditakuti, tapi untuk dipahami.”
Akira mengangguk. “Kayaknya seru.”
Mereka masuk ke kapsul dunia virtual. Lampu meredup, lalu—
[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di tengah kota penuh tumpukan sampah warna-warni]
[suasana bgm: agak misterius tapi tetap ringan]
BRUUUM!
Dalam sekejap, Akira dan Kenzo sudah berada di sebuah kota aneh. Gedung-gedungnya tinggi, tapi terbuat dari botol plastik. Jalanannya dari kardus, dan ada kaleng-kaleng berserakan seperti batu.
“Ini kota apa tempat rongsokan raksasa?” tanya Kenzo sambil menutup hidung.
“Kenzo, itu bukan rongsokan. Itu sampah,” jawab Akira.
Tiba-tiba…
KREESEK… KRESEK…
[gambar: Bayangan monster kecil dari tumpukan sampah]
Kenzo langsung bersembunyi di belakang Akira. “Kakaaa… ada yang gerak!”
Dari balik tumpukan plastik muncul makhluk kecil berbentuk bulat, tubuhnya dari kantong plastik warna-warni, dengan mata besar dan senyum lebar.
“Halo!” kata makhluk itu ceria.
Kenzo melongo. “Monsternya… ngomong?”
“Aku Plasti, monster sampah plastik!” katanya bangga.
Plasti melompat-lompat, tapi setiap lompatannya berbunyi kresek-kresek.
Akira tertawa kecil. “Lucu juga, ya.”
Kenzo mengangguk. “Iya… tapi suaranya kayak bungkus gorengan.”
Plasti tidak tersinggung sama sekali. “Hehe, itu karena aku dari plastik bekas. Tapi aku bukan jahat!”
Belum sempat Akira bertanya lebih jauh, terdengar suara lain:
[gambar: Monster kaleng tinggi kurus dan monster kertas yang mudah terlipat]
[suasana bgm: ceria]
“DUNG! DUNG!”
Muncul monster kaleng bernama Kalenggo, jalannya kaku dan berbunyi nyaring. Di sampingnya ada Kertasia, monster kertas yang mudah terlipat tiap kena angin.
“Kalian manusia, ya?” tanya Kertasia lembut.
“Iya,” jawab Akira. “Kami Akira dan Kenzo.”
Kalenggo menghela napas. “Wah, akhirnya ada manusia yang datang ke Kota Sampah.”
Kenzo menggaruk kepala. “Kok kalian bilangnya monster sampah… tapi kelihatannya baik?”
Plasti tersenyum. “Kami jadi monster karena manusia sering membuang sampah sembarangan. Kami numpuk… numpuk… sampai hidup sendiri.”
Akira terdiam. Kenzo ikut diam—untuk pertama kalinya tanpa bercanda.
[gambar: Akira dan Kenzo memandang Kota Sampah yang luas]
[suasana bgm: lembut dan sedikit reflektif]
“Kalau begitu,” kata Akira pelan, “kota ini pasti punya masalah besar.”
Plasti mengangguk cepat. “Iya! Dan kami butuh bantuan!”
Kenzo menelan ludah. “Bantuan… yang nggak terlalu seram, kan?”
Plasti tertawa. “Tenang! Paling cuma… agak bau.”
Kenzo langsung menutup hidung lagi. “Nah, itu dia seramnya!”
Petualangan Akira dan Kenzo baru saja dimulai.
Di kota penuh sampah ini, mereka akan belajar sesuatu yang penting—tentang tanggung jawab, kebersihan, dan bagaimana hal kecil bisa berdampak besar.
[gambar: Akira, Kenzo, dan para monster sampah berjalan di antara bangunan dari botol dan kardus]
[suasana bgm: petualangan ringan dan ceria]
Plasti berjalan paling depan sambil melompat-lompat. Kalenggo menyusul dengan langkah dung-dung yang teratur, sementara Kertasia sesekali terlipat lalu membuka diri lagi seperti kipas.
Kenzo menutup hidung, lalu melirik Akira. “Kak… kalau kita tinggal lama-lama di sini, hidung kita bisa pindah rumah nggak?”
Akira tertawa. “Nggak segitunya, Ken.”
Plasti menoleh. “Kalau mau, aku bisa kasih jepitan plastik buat hidungmu.”
“NGGAK USAH!” jawab Kenzo cepat-cepat.
[gambar: Kota Sampah dengan tiga zona berbeda: plastik, kertas, dan logam]
[suasana bgm: penuh rasa ingin tahu]
“Ini Rahasia Kota Sampah,” kata Kertasia sambil menunjuk ke depan.
Di hadapan mereka terbentang tiga wilayah besar:
Gunung botol plastik berkilau, tumpukan kertas seperti labirin, dan menara kaleng yang menjulang.
“Dulu,” lanjut Kalenggo, “kami semua terpisah rapi. Sampah plastik, kertas, dan logam ada di tempatnya masing-masing.”
“Terus kenapa sekarang berantakan?” tanya Akira.
Plasti menghela napas panjang. “Karena Pencampur Besar.”
[gambar: Bayangan mesin raksasa dengan simbol sampah berputar-putar]
[suasana bgm: misterius]
Kenzo merinding. “Itu nama mesin atau nama monster?”
“Mesin,” jawab Plasti. “Tapi sifatnya kayak monster.”
Kertasia menjelaskan, “Pencampur Besar muncul saat manusia membuang sampah sembarangan. Semakin banyak sampah tercampur, mesin itu makin kuat.”
Akira mengangguk pelan. “Jadi… kalau manusia memilah sampah, mesin itu melemah?”
“BETUL!” jawab para monster kompak.
Kenzo melonjak kecil. “Wah, berarti manusia punya kekuatan super, dong!”
Kalenggo tersenyum. “Iya. Sayangnya, sering nggak dipakai.”
[gambar: Kenzo hampir terpeleset kulit pisang, Akira menarik tangannya]
[suasana bgm: lucu]
Tiba-tiba—WUS!
Kenzo hampir terpeleset kulit pisang.
“ASTAGH—!”
Akira cepat menarik tangan Kenzo. “Hati-hati!”
Kenzo menatap kulit pisang itu dengan kesal. “Siapa juga yang buang sembarangan sih?”
Plasti mengangkat tangan kecilnya. “Nah, itu contoh masalahnya.”
Kenzo terdiam. Lalu berkata pelan, “Aku… kadang juga gitu.”
Akira menoleh. “Masa?”
Kenzo mengangguk. “Iya… tapi cuma bungkus permen. Kecil.”
Kertasia tersenyum lembut. “Kalau satu kecil, dikali banyak orang, jadi gunung.”
[gambar: Gunung sampah kecil berubah jadi besar dalam bayangan imajinatif]
[suasana bgm: lembut dan menyentuh]
Mereka berhenti di sebuah lapangan luas. Di tengahnya ada simbol besar berbentuk tiga panah melingkar.
“Itu apa?” tanya Akira.
“Itu Simbol Harapan,” kata Kalenggo. “Reduce, Reuse, Recycle.”
Kenzo membaca pelan. “Re… dus… re… yus… re… sai… kel.”
Plasti terkekeh. “Nggak apa-apa salah. Yang penting dipraktikkan.”
Tiba-tiba tanah bergetar.
[gambar: Tanah bergetar, sampah bergerak sendiri]
[suasana bgm: menegangkan]
“DUUUM… DUUUM…”
Plasti panik. “Itu dia! Pencampur Besar mulai aktif!”
Kalenggo mengepalkan tangan kalengnya. “Kalau dibiarkan, Kota Sampah bisa runtuh!”
Kenzo menelan ludah. “Kak… ini mulai agak seram.”
Akira menepuk bahu adiknya. “Tenang. Kita hadapi bareng.”
Kertasia menatap Akira dan Kenzo penuh harap.
“Kalian mau membantu kami?”
Akira mengangguk mantap.
Kenzo ikut mengangguk, meski masih sedikit gemetar. “Asal… nggak disuruh dorong gunung sampah sendirian.”
Plasti tertawa. “Nggak kok. Tapi misi pertama kita… lumayan menantang.”
[gambar: Peta Kota Sampah muncul bercahaya di udara]
[suasana bgm: petualangan dimulai]
“Bersiaplah,” kata Kalenggo.
“Karena kita akan memulai Misi Pemilahan Pertama.”
[gambar: Akira dan Kenzo memegang sarung tangan, di depan tiga tempat sampah besar berwarna berbeda]
[suasana bgm: semangat petualangan]
TIGA tempat sampah raksasa berdiri di depan mereka.
Yang satu berwarna biru dengan simbol botol, satu kuning dengan gambar kaleng, dan satu hijau bergambar kertas.
“Ini dia,” kata Plasti bangga. “Tempat Pemilah Utama Kota Sampah.”
Kenzo membaca tulisannya keras-keras.
“PLASTIK… KALENG… KERTAS.”
Lalu ia menoleh ke Akira. “Kak, ini kayak ulangan dadakan.”
Akira tersenyum. “Bedanya, kalau salah, nggak dimarahi Bu Guru.”
Kalenggo batuk kecil. “Ehem… tapi Kota Sampah bisa makin kacau.”
Kenzo langsung berdiri tegap. “SIAP! Aku fokus.”
[gambar: Sampah-sampah melayang turun dari langit seperti hujan]
[suasana bgm: sedikit panik tapi tetap ceria]
Tiba-tiba—
WOOOSH!
Sampah-sampah berjatuhan dari atas: botol, kertas, kaleng, kulit pisang, bahkan sendal jepit entah dari mana.
“Lho?! Kok banyak banget?!” teriak Kenzo.
Plasti panik. “Pencampur Besar makin aktif! Kita harus cepat!”
Akira mengambil botol plastik. “Botol ke plastik!”
Kenzo mengambil kaleng. “Kaleng ke kuning!”
DUNG!
Kaleng masuk, Kalenggo mengangguk bangga.
[gambar: Kenzo memasukkan sendal jepit ke tempat kertas, semua terdiam]
[suasana bgm: hening lucu]
Kenzo melempar sesuatu.
PLUK.
Semua terdiam.
Akira menoleh pelan. “Kenzo… itu sendal.”
Kenzo berkedip. “Eh?”
Kertasia berkata hati-hati, “Itu… bukan kertas.”
Kenzo langsung panik. “SALAH YA? SALAH YA?!”
Plasti tertawa. “Tenang! Sendal masuk ke ‘sampah lain-lain’. Tapi… tempatnya belum ada.”
Kenzo menghela napas panjang. “Untung nggak meledak.”
[gambar: Tempat sampah bergetar, simbolnya menyala]
[suasana bgm: menegangkan ringan]
Saat mereka bekerja, simbol di tempat sampah mulai menyala.
Tapi tiba-tiba…
BRAAAK!
Tempat sampah plastik penuh dan tumpah.
“WADUH!” teriak Plasti.
Akira berpikir cepat. “Kenzo, botol bisa dipipihkan!”
Kenzo menginjak botol.
PRASS!
Ia tersenyum. “Eh, jadi kecil!”
Plasti bersorak. “Itu namanya reduce!”
[gambar: Kenzo kepedean, menginjak botol sampai terpental]
[suasana bgm: lucu]
Kenzo mencoba lagi—
PRANG!
Botolnya terpental dan hampir mengenai Kalenggo.
Kalenggo refleks menunduk. “HAMPIR PENYOK KEPALAKU!”
Kenzo nyengir. “Hehe… kebanyakan semangat.”
Kertasia lalu berkata, “Kalau kertas, bisa dipakai ulang.”
Ia menunjukkan kertas bekas yang masih kosong di satu sisi.
“Ini reuse.”
Akira mengangguk. “Kalau sisanya, kita recycle.”
[gambar: Simbol Reduce, Reuse, Recycle bersinar terang]
[suasana bgm: heroik anak-anak]
Tiba-tiba getaran berhenti. Sampah yang jatuh dari langit melambat… lalu berhenti.
Plasti melonjak kegirangan. “Berhasil! Pencampur Besar melemah!”
Kenzo mengelap keringat. “Ternyata… memilah sampah itu capek, ya.”
Akira tersenyum. “Makanya harus dibiasakan, biar nggak numpuk.”
Namun, belum sempat mereka beristirahat—
[gambar: Bayangan mesin raksasa makin jelas di kejauhan]
[suasana bgm: menegangkan]
DUUUUM…
Kalenggo menatap jauh. “Pencampur Besar belum kalah.”
Kertasia berkata pelan, “Dia masih punya satu senjata terakhir…”
Kenzo menelan ludah. “Senjata?”
Plasti mengangguk. “Sampah yang paling susah dipisahkan.”
Akira mengepalkan tangan. “Apa itu?”
[gambar: Cahaya gelap menyelimuti Kota Sampah]
[suasana bgm: tegang]
Plasti menjawab dengan suara serius,
“Sampah campur yang dibuang sembarangan oleh kebiasaan lama manusia.”
Kenzo bergidik. “Kedengarannya… berat.”
Akira menatap adiknya. “Tapi kita belum menyerah.”
Mereka berdiri bersama, siap menghadapi tantangan terbesar.
[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di depan mesin raksasa Pencampur Besar yang berasap]
[suasana bgm: menegangkan dan penuh tantangan]
Udara di Kota Sampah berubah berat.
Di depan Akira dan Kenzo berdiri Pencampur Besar—mesin raksasa berputar-putar, tubuhnya tersusun dari berbagai jenis sampah yang saling menempel: plastik, kertas, kaleng, sisa makanan, semuanya tercampur.
GROOOOM…
“Wah,” Kenzo berbisik. “Ini monster mesin… atau mesin monster?”
Plasti menelan ludah. “Dua-duanya.”
[gambar: Mesin berputar, memuntahkan sampah campur]
[suasana bgm: tegang]
Setiap kali mesin berputar, sampah campur dimuntahkan ke tanah dan langsung menempel lagi, makin besar dan makin berat.
Kertasia berkata sedih, “Ini terbentuk dari kebiasaan lama manusia… malas memilah, asal buang.”
Kenzo menunduk. “Aku jadi keinget… kadang aku juga gitu.”
Akira meletakkan tangan di bahu adiknya. “Yang penting sekarang kita mau berubah.”
Kalenggo melangkah maju. “Mesin ini nggak bisa dihancurkan dengan tenaga. Semakin didorong, semakin kuat.”
Kenzo panik. “Lah, terus gimana?”
Plasti mengangkat jari. “Kita pakai kebiasaan baru.”
[gambar: Kenzo mengernyit bingung, Akira berpikir]
[suasana bgm: perlahan membangun harapan]
Akira bertanya, “Maksudnya?”
Plasti menjelaskan, “Setiap kebiasaan baik manusia—memilah, mengurangi, memakai ulang—akan mengurangi energi Pencampur Besar.”
“Tapi… manusia kan nggak ada di sini,” kata Kenzo.
Kertasia tersenyum lembut. “Kalian berdua ada.”
[gambar: Cahaya lembut menyinari Akira dan Kenzo]
[suasana bgm: hangat dan penuh harapan]
Akira dan Kenzo saling pandang.
Kenzo mengepalkan tangan kecilnya. “Oke! Aku janji nggak buang sampah sembarangan lagi.”
Akira menambahkan, “Dan aku akan ingetin teman-teman.”
Tiba-tiba gelang virtual di tangan mereka menyala.
[gambar: Gelang virtual menampilkan pilihan kebiasaan baik]
[suasana bgm: interaktif dan seru]
Muncul pilihan:
Memilah sampah
Mengurangi plastik sekali pakai
Membawa botol minum sendiri
Menggunakan kertas dua sisi
Kenzo menunjuk cepat. “BOTOL MINUM SENDIRI! Soalnya punyaku lucu.”
Akira tertawa kecil. “Baiklah.”
Setiap pilihan yang mereka sentuh berubah jadi cahaya dan melesat ke Pencampur Besar.
[gambar: Cahaya menabrak mesin, mesin mulai melambat]
[suasana bgm: heroik anak-anak]
GROOOM… grooom…
Mesin mulai melambat. Sampah yang menempel satu per satu terlepas dan jatuh sesuai jenisnya.
Plasti bersorak. “Berhasil! Energinya berkurang!”
Namun tiba-tiba—
[gambar: Inti gelap berdenyut di tengah mesin]
[suasana bgm: menegangkan]
“Belum selesai,” kata Kalenggo serius.
“Masih ada Inti Kebiasaan Lama.”
Kenzo menelan ludah. “Kok masih ada lagi sih…”
Akira menarik napas. “Yang terakhir biasanya paling penting.”
Kertasia memandang mereka penuh harap.
“Inti itu hanya bisa hancur kalau kalian benar-benar paham.”
Kenzo mengangkat alis. “Paham apa?”
Plasti menjawab pelan,
“Bahwa satu kebiasaan kecil… kalau dilakukan terus… bisa mengubah dunia.”
[gambar: Akira dan Kenzo melangkah mendekati inti mesin]
[suasana bgm: pelan, khidmat]
Akira dan Kenzo melangkah maju bersama.
Kenzo berbisik, “Kak… aku siap.”
Akira tersenyum. “Aku juga.”
Mereka mengulurkan tangan ke arah inti yang berdenyut.
[gambar: Akira dan Kenzo berdiri di depan inti mesin Pencampur Besar yang berdenyut pelan]
[suasana bgm: lembut, tegang, lalu penuh harapan]
Inti Kebiasaan Lama berdenyut seperti jantung. Warnanya gelap, berputar-putar, seakan menyimpan semua kebiasaan buruk manusia yang pernah ada.
Kenzo menelan ludah. “Kok rasanya kayak mau ulangan tapi lupa belajar…”
Akira tersenyum kecil. “Tenang. Ini ulangan hidup.”
Plasti, Kertasia, dan Kalenggo berdiri di belakang mereka, menatap penuh harap.
[gambar: Kenzo dan Akira mengulurkan tangan bersama]
[suasana bgm: hening sesaat]
Saat Akira dan Kenzo menyentuh inti itu, muncul bayangan-bayangan: anak-anak membuang sampah sembarangan, plastik mengalir di sungai, tumpukan sampah menggunung.
Kenzo memejamkan mata. “Aku nggak mau itu terus terjadi.”
Akira berkata mantap, “Kami janji akan mulai dari diri sendiri.”
[gambar: Cahaya hangat muncul dari tangan Akira dan Kenzo]
[suasana bgm: hangat dan menguatkan]
Mereka mengucapkan janji kecil dengan suara pelan tapi sungguh-sungguh:
membuang sampah pada tempatnya
memilah sampah sesuai jenis
mengurangi plastik sekali pakai
mengajak orang lain berbuat hal yang sama
Cahaya dari janji itu membesar, membungkus inti gelap.
CRAAACK…
[gambar: Inti gelap retak dan berubah jadi cahaya hijau]
[suasana bgm: kemenangan dan ceria]
Inti Kebiasaan Lama retak… lalu pecah menjadi cahaya hijau yang menyebar ke seluruh Kota Sampah.
Pencampur Besar berhenti sepenuhnya.
BRUUM…
Mesin itu mengecil, lalu berubah menjadi simbol ♻️ besar yang bersinar.
Plasti meloncat kegirangan. “Kita berhasil!!!”
Kalenggo sampai berbunyi DUNG! karena terlalu semangat.
Kertasia berputar-putar seperti kertas diterbangkan angin.
[gambar: Kota Sampah berubah jadi kota bersih dan rapi]
[suasana bgm: ceria dan menenangkan]
Gunung sampah menghilang. Sungai mengalir jernih. Bangunan botol, kaleng, dan kertas kini tersusun rapi dan indah.
Kenzo ternganga. “Wah… kota ini jadi cakep.”
Akira tersenyum bangga. “Karena dijaga bareng-bareng.”
Plasti menatap mereka dengan mata berbinar.
“Ingat ya, Kota Sampah ini akan tetap baik… kalau janji kalian ditepati di dunia nyata.”
Kenzo mengangguk cepat. “Siap! Aku bahkan bakal marahin Kakak kalau buang sampah sembarangan.”
Akira tertawa. “Eh, kok aku?”
[gambar: Kak Anti muncul di dunia virtual sambil tersenyum]
[suasana bgm: hangat penutup]
Cahaya putih menyelimuti mereka.
“Petualangan selesai,” suara Kak Anti terdengar lembut.
“Kalian hebat hari ini.”
[gambar: Akira dan Kenzo kembali ke Jayanti Fun-Lab]
[suasana bgm: ceria penutup]
Kapsul terbuka. Akira dan Kenzo kembali ke Jayanti Fun-Lab.
Kenzo langsung melihat botol minumnya di tas.
“Mulai sekarang… aku bawa ini terus.”
Akira mengangguk. “Dan aku akan jadi contoh.”
Kak Anti tersenyum bangga.
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil.”
Akira dan Kenzo saling pandang, lalu tertawa kecil—siap menjalani hari dengan kebiasaan baru.
[gambar: Akira dan Kenzo berjalan pulang sambil tersenyum, membawa botol minum]
[suasana bgm: hangat dan optimis]
TAMAT 🌍♻️✨







0 komentar